Telp : 75791381 ext 4175, Fax : 75791428 Email: sekr-bbtmc@bppt.go.id

BPPT Kembali Terapkan Teknologi Modifikasi Cuaca Untuk Siaga Darurat Bencana Asap Karhutla Di Sumatera Selatan

 

Bencana asap akibat kebakaran lahan dan hutan dari tahun ke tahun selalu menyisakan trauma yang cukup dalam bagi masyarakat di wilayah Sumatera dan Kalimantan khususnya dan Indonesia pada umumnya. Memasuki musim kemarau tahun 2017, beberapa lembaga riset dunia dan badan-badan meteorologi dari beberapa Negara di dunia memperkirakan fenomea El Nino akan kembali terjadi pada tahun ini meskipun masih dalam kategori El Nino Lemah. Fenomena ini diperkirakan akan berlangsung mulai bulan Juni hingga akhir tahun 2017. Adanya kejadian El Nino secara umum akan mengurangi intensitas curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk curah hujan di Sumatera dan Kalimantan. Dengan kondisi ini, Pemerintah berupaya mengantisipasi untuk menghindari timbulnya ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan di beberapa provinsi rawan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan.

Wilayah Pulau Sumatera khususnya Provinsi Sumatera Selatan merupakan daerah yang paling rawan terkena dampak bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Dibandingkan jenis bencana hidrometeorologi yang lain, bencana kabut asap karhutla perlu mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Indonesia karena sifat kejadiannya yang umumnya berlangsung dalam periode yang cukup panjang dan kerap menimbulkan banyak kerugian dalam skala yang cukup luas. Selain merusak keanekaragaman dalam ekosistem hutan, dampak negatif kabut asap lainnya adalah terganggunya lalu lintas transportasi udara serta lumpuhnya berbagai aktifitas ekonomi dan sosial masyarakat di daerah terdampak bencana. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia selalu memberikan perhatian khusus terhadap upaya pencegahan dan penanggulangan bencana kabut asap karhutla setiap tahunnya.

Berdasarkan pantauan satelit NOAA-18, sejak 1 Januari hingga 3 Juni 2017 total hotspot di Wilayah Sumatera sebanyak 143 titik dan di Wilayah Kaimantan sebanyak 97 titik. Dengan memperhatikan kondisi hotspot beberapa hari terakhir, hotspot historis dan prediksi kondisi atmosfir ke depan untuk wilayah Sumatera pada umumnya dan Sumatera Selatan khususnya yang akan memasuki musim kemarau, maka Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau sering dikenal dengan istilah hujan buatan dalam rangka siaga darurat kebakaran hutan dan lahan untuk mengoptimalkan potensi awan menjadi hujan. Belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya dimana pada musim kemarau terjadi bencana kebakaran hutan dan lahan yang sangat parah, maka TMC perlu dilaksanakan sebagai langkah antisipasi untuk pembasahan lahan-lahan gambut dan pengisian embung-embung penampungan air untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang tidak terkendali yang dapat menimbulkan bencana asap yang bisa mengganggu aktifitas penerbangan di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, dan bahkan bisa mengganggu kesehatan masyarakat.

Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) adalah suatu bentuk upaya intervensi manusia pada sistem awan untuk mengkondisikan cuaca agar berperilaku lebih mengarah sesuai dengan yang dibutuhkan, umumnya adalah untuk meningkatkan intensitas curah hujan atau mempercepat proses hujan di suatu tempat. TMC dilakukan dengan meniru proses alamiah yang terjadi di dalam awan. Sejumlah partikel higroskopik yang dibawa dengan pesawat sengaja ditambahkan langsung ke dalam awan jenis Cumulus (awan hujan) agar proses pengumpulan tetes air di dalam awan segera dimulai. Dengan berlangsungnya pembesaran tetes air secara lebih efektif maka proses hujan menjadi lebih cepat dan menghasilkan curah hujan yang lebih banyak. Dalam hal ini, hujan yang terjadi diharapkan akan dapat mengisi embung-embung, pembasahan tanah dan bahkan hujan tersebut akan memadamkan sejumlah hotspot yang ada dan menipiskan kabut asap sehingga meningkatkan visibility (jarak pandang) yang kerap mengganggu kesehatan dan aktivitas penerbangan.

Secara regulasi, peranan TMC untuk mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan telah tertuang dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2011 tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, dimana Presiden RI memberikan instruksi kepada Menteri Riset dan Teknologi untuk melakukan koordinasi dalam pemberian bantuan penanganan kebakaran hutan dan lahan dengan menggunakan teknologi pembuatan hujan buatan.

Pelaksanaan Launching Operasi Udara TMC Untuk Penananganan Siaga Darurat karhutla di Provinsi Sumatera Selatan ini dipimpin langsung oleh Wakil Gubernur Sumatera Selatan, pada tanggal 7 Juni 2017 di Halaman Base Ops Lanud Sri Mulyono Herlambang (SMH) Palembang. Dalam acara tersebut dihadiri Depuit Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam, perwakilan BNPB, perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,serta Pejabat Teras Provinsi Sumatera Selatan. Operasi TMC di Sumatera Selatan akan dikendalikan dari Posko yang bertempat di Lanud SMH Palembang.  Untuk membantu pengamatan cuaca dan kondisi awan di wilayah target, telah ditempatkan personil di 2 lokasi Pos Pengamatan Meteorologi (Posmet), yaitu di daerah Kayu Agung dan Sekayu. Hasil pengamatan cuaca dan potensi awan hujan akan dilaporkan setiap saat oleh petugas di Posmet kepada Tim Pelaksana di Posko, untuk dianalisis dan dijadikan sebagai masukan guna menentukan strategi pelaksanaan penyemaian awan setiap harinya. BPPT juga bekerjasama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk memanfaatkan data radar cuaca Stasiun Meteorologi Palembang. Operasi ini akan didukung oleh 2 unit pesawat jenis CASA yang terdiri dari satu unit pesawat dengan nomor registrasi PK-PCT milik PT Pelita Air Service dan satu unit pesawat milik TNI AU dari skadron 4 Malang. Bahan semai yang digunakan adalah garam (NaCl) berbentuk powder dengan ukuran butir yang sangat halus (orde mikron). Dalam mengukur keberhasilan kegiatan TMC, akan dilakukan monitoring hujan di daerah seeding dan sekitarnya serta dipasang peralatan dari instrumentasi Early Warning System (EWS) karhutla. Peralatan EWS yang dipasang tersebut meliputi sensor kelembapan tanah, suhu tanah dan Automatic Weather Station (AWS) yang dapat digunakan untuk  memonitor kelembapan atau kandungan air pada beberapa level kedalaman lahan gambut dan kondisi cuaca di sekitarnya. Peralatan monitoring tersebut rencananya akan ditempatkan di wilayah yang didominasi gambut yang rawan terjadinya kebakaran hutan dan lahan seperti di Kab. OKI dan Kab. Banyuasin. Sistem monitoring tersebut akan diupayakan dapat dimonitor secara online baik dari Posko TMC di Lanud Palembang maupun dari kantor BPPT di Jakarta.

Statistik Pengunjung

2.png8.png4.png5.png0.png
Today75
Yesterday133
This week75
This month1426
Total28450

Kontak Kami

Gedung Ir. Mohammad Soebagio
Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) - BPPT, GEOSTECH
Kawasan PUSPIPTEK Serpong - Tangerang Selatan 15314
Telp. (021) 75791381 ext 4175 ; Faks. (021) 75791428
e-mail:
ka-bbtmc@bppt.go.id
sekr-bbtmc@bppt.go.id