Telp : 75791381 ext 4175, Fax : 75791428 Email: sekr-bbtmc@bppt.go.id

Penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca di Provinsi Sumatera Selatan Untuk Siaga Darurat Bencana Asap Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan serta Pengamanan Asian Games 2018

Upaya penanganan bencana asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dikoordinir oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam upaya pemanfaatan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) beberapa tahun terakhir yang mulai dilakukan sejak dini sebelum terjadinya bencana asap karhutla secara masif telah berhasil menurunkan jumlah titik api di sejumlah provinsi yang kerap terdampak bencana karhutla. Berdasarkan data dari BNPB, jumlah titik api yang terjadi pada tahun 2017 berkurang sebesar 32,6% dibandingkan pada tahun 2016. Pada tahun 2016, berdasarkan pantauan satelit NOAA jumlah titik api terdeteksi sebanyak 3.563 titik, sementara di tahun 2017 hanya terdeteksi sebanyak 2.400 titik. Secara keseluruhan, berdasarkan analisis citra satelit yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, luas kebakaran hutan dan lahan pada 2017 sebesar 124.983 hektar hutan dan lahan. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan pada 2016 seluas 438.360 hektar dan pada 2015 seluas 2,61 juta hektar.

Wilayah Pulau Sumatera khususnya Provinsi Sumatera Selatan merupakan daerah yang paling rawan terkena dampak bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Dibandingkan jenis bencana hidrometeorologi yang lain, bencana kabut asap karhutla perlu mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Indonesia karena sifat kejadiannya umumnya berlangsung dalam periode yang cukup panjang dan kerap menimbulkan banyak kerugian dalam skala yang cukup luas. Selain merusak keanekaragaman dalam ekosistem hutan, dampak negatif kabut asap lainnya adalah terganggunya lalu lintas transportasi udara serta lumpuhnya berbagai aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat di daerah terdampak bencana. Terlebih pada tahun ini, Palembang akan menjadi salah satu tempat penyelenggaraan Asian Games 2018. Presiden RI Joko Widodo dalam sambutannya saat membuka Rakornas Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2018, di Istana Negara, pada tanggal 6 Februari 2018 meminta kepada seluruh elemen terkait agar selama berlangsungnya perhelatan pesta olah raga se-Asia tersebut nanti tidak muncul gangguan bencana asap karhutla. Untuk itu, Presiden meminta kepada seluruh jajarannya agar segera melakukan deteksi dan antisipasi dini terhadap potensi bencana karhutla.

Berdasarkan pantauan satelit NOAA-18, sejak Januari hingga April 2018 total hotspot di Wilayah Sumatera sebanyak 246 titik dan di Wilayah Kaimantan sebanyak 199 titik. Stasiun BMKG Sultan Mahmud Badarudin II Palembang juga mengeluarkan prediksi di awal bulan Februari 2018 yang memperkirakan bahwa musim kemarau tahun 2018 di Provinsi Sumatera Selatan akan berlangsung mulai April hingga akhir Oktober 2018, dengan kondisi suhu udara panas dan kering yang berpotensi dapat memicu terjadinya bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dengan memperhatikan kondisi hotspot beberapa hari terakhir, hotspot historis dan prediksi kondisi atmosfir ke depan untuk wilayah Sumatera pada umumnya dan Sumatera Selatan khususnya yang akan memasuki musim kemarau serta pelaksanaan event olahraga se Asia, Asian Games tahun 2018 yang akan berlangsung di Palembang pada bulan Agustus 2018 dan dikhawatirkan akan terganggu akibat adanya kabut asap karhutla, maka Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau sering dikenal dengan istilah hujan buatan dalam rangka siaga darurat kebakaran hutan dan lahan untuk mengoptimalkan potensi awan menjadi hujan. Belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya dimana pada musim kemarau terjadi bencana kebakaran hutan dan lahan yang sangat parah, maka TMC perlu dilaksanakan sebagai langkah antisipasi untuk pembasahan lahan-lahan gambut dan pengisian embung-embung penampungan air untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang tidak terkendali yang dapat menimbulkan bencana asap yang bisa mengganggu aktifitas penerbangan di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, dan bahkan bisa mengganggu kesehatan masyarakat.

Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) adalah suatu bentuk upaya intervensi manusia pada sistem awan untuk mengkondisikan cuaca agar berperilaku lebih mengarah sesuai dengan yang dibutuhkan, umumnya adalah untuk meningkatkan intensitas curah hujan atau mempercepat proses hujan di suatu tempat. TMC dilakukan dengan meniru proses alamiah yang terjadi di dalam awan. Sejumlah partikel higroskopik yang dibawa dengan pesawat sengaja ditambahkan langsung ke dalam awan jenis Cumulus (awan hujan) agar proses pengumpulan tetes air di dalam awan segera dimulai. Dengan berlangsungnya pembesaran tetes air secara lebih efektif maka proses hujan menjadi lebih cepat dan menghasilkan curah hujan yang lebih banyak. Dalam hal ini, hujan yang terjadi diharapkan akan dapat mengisi embung-embung, pembasahan tanah dan bahkan hujan tersebut akan memadamkan sejumlah hotspot yang ada dan menipiskan kabut asap sehingga meningkatkan visibility (jarak pandang) yang kerap mengganggu kesehatan dan aktivitas penerbangan.

Secara regulasi, peranan TMC untuk mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan telah tertuang dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2011 tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, dimana Presiden RI memberikan instruksi kepada Menteri Riset dan Teknologi untuk melakukan koordinasi dalam pemberian bantuan penanganan kebakaran hutan dan lahan dengan menggunakan teknologi pembuatan hujan buatan.

Pelaksanaan Launching Operasi Udara TMC Untuk Penananganan Siaga Darurat karhutla sekaligus apel kesiapsiagaan personil dan peralatan penanggulangan karhutla di Provinsi Sumatera Selatan  ini diselenggarakan pada tanggal 16 Mei 2018 di Lapangan Desa Palem Raya Km 28, Kec. Indralaya Kab. Ogan Ilir yang dibuka oleh Danrem 044/GAPO selaku Dansatgas Karhutla Sumatera Selatan dan dihadiri oleh Plt Deputy 2 BNPB, Kepala Balai Besar TMC-BPPT, Bupati Ogan Ilir beserta jajaran, perwakilan Pemprov Sumatera Selatan beserta jajaran, BPBD dan instansi terkait lainnya. Operasi TMC di Sumatera Selatan akan dikendalikan dari Posko yang bertempat di Lanud Sri Mulyono Herlambang Palembang.  Untuk membantu pengamatan cuaca dan kondisi awan di wilayah target, telah ditempatkan personil di 2 lokasi Pos Pengamatan Meteorologi (Posmet), yaitu di daerah Kayu Agung dan Sekayu. Hasil pengamatan cuaca dan potensi awan hujan akan dilaporkan setiap saat oleh petugas di Posmet kepada Tim Pelaksana di Posko, untuk dianalisis dan dijadikan sebagai masukan guna menentukan strategi pelaksanaan penyemaian awan setiap harinya. BPPT juga bekerjasama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk memanfaatkan data radar cuaca Stasiun Meteorologi Palembang. Operasi ini akan didukung oleh 1 unit pesawat jenis CASA dengan nomor registrasi PK-PCT milik PT Pelita Air Service. Bahan semai yang digunakan adalah garam (NaCl) berbentuk powder dengan ukuran butir yang sangat halus (orde mikron). Dalam mengukur keberhasilan kegiatan TMC, akan dilakukan monitoring hujan di daerah seeding dan sekitarnya serta dipasang peralatan dari instrumentasi Early Warning System (EWS) karhutla. Peralatan EWS yang dipasang tersebut meliputi sensor kelembapan tanah, suhu tanah dan Automatic Weather Station (AWS) yang dapat digunakan untuk  memonitor kelembapan atau kandungan air pada beberapa level kedalaman lahan gambut dan kondisi cuaca di sekitarnya. Peralatan monitoring tersebut rencananya akan ditempatkan di wilayah yang didominasi gambut yang rawan terjadinya kebakaran hutan dan lahan seperti di Kab. OKI dan Kab. Banyuasin. Sistem monitoring tersebut akan diupayakan dapat dimonitor secara online baik dari Posko TMC di Lanud Palembang maupun dari kantor BPPT di Jakarta.

(IBN/STR)

Statistik Pengunjung

6.png2.png6.png9.png9.png
Today199
Yesterday247
This week199
This month4508
Total62699

Kontak Kami

Gedung Ir. Mohammad Soebagio
Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) - BPPT, GEOSTECH
Kawasan PUSPIPTEK Serpong - Tangerang Selatan 15314
Telp. (021) 75791381 ext 4175 ; Faks. (021) 75791428
e-mail:
ka-bbtmc@bppt.go.id
sekr-bbtmc@bppt.go.id