Instagram  : @BBTMC_BPPT     Twitter : @BBTMC_BPPT

Berita Internal

Berita Internal

Berita Internal UPT Hujan Buatan

BBTMC Kembangkan GBG tipe Nozzle Jet Ejector Penghantar Bahan Semai NaCl Powder 2-5 mikrometer

Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca merupakan satu-satunya institusi di Indonesia yang menyediakan jasa layanan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Kecenderungan meningkatnya permintaan sektor kebencanaan ini banyak menyita infrastruktur pendukung utama TMC yaitu pesawat terbang yang merupakan wahana untuk menghantarkan bahan semai ke dalam awan. Sebagai alternatif wahana penyemaian awan, BBTMC telah mengembangkan dan mengaplikasikan Ground Based Generator (GBG) berupa menara setinggi 50 meter lokasi pembakaran bahan semai flare. GBG dengan bahan semai flare ini sudah diterapkan pada kegiatan TMC untuk pengisian waduk DAS Larona di Sulawesi Selatan.

Dengan telah dihasilkannya produk bahan semai serbuk NaCl pada distribusi 2-5 mikrometer, maka pada tahun 2021 pengembangan GBG diarahkan untuk dapat memanfaatkan bahan semai tersebut. “Tahun lalu BBTMC telah berhasil melakukan produksi bahan semai serbuk NaCl berukuran 2-5 mikrometer. Saat ini kita tengah melakukan pengembangan inovasi baru GBG untuk menghantarkan bahan semai tersebut ke dalam awan dari darat” kata Jon Arifian Kepala BBTMC-BPPT.

“Dalam mengembangkan kapasitas GBG ini, kami bekerjasama dengan unit lainnya di BPPT yaitu Balai Teknologi Termodinamika Motor dan Propulsi dalam memanfaatkan instrumen Nozzle Jet Ejector untuk mengarahkan bahan semai powder lebih jauh secara vertikal. Kita menargetkan agar bahan semai ini dapat terlontar hingga ketinggian 100 meter dari puncak menara”, tutur Jon Arifian menjelaskan kepada tim redaksi WXMOD. “Dengan adanya gaya dorong ke atas kita harapkan GBG tipe ini akan lebih ideal dibandingkan generasi GBG sebelumnya yang hanya memanfaatkan daya dorong angin secara alami. Selain itu berdasarkan refensi journal ilmiah bahan semai dengan ukuran 2-5 mikrometer ini memiliki efektifitas yang lebih baik dalam mempengaruhi proses dinamika di dalam awan” lanjutnya.

 

“Berdasarkan hasil simulasi awal yang dilakukan selama periode Triwulan I 2021, bahan semai serbuk NaCl 2-5 mikron ini mampu dihantarkan oleh peralatan nozzle jet ejector hingga ketinggian mendekati target 100 meter dari mulut ejector. Tingkat kebisingan yang ditimbulkan juga dapat ditekan sehingga tidak signifikan mengganggu” Jon Arifian menjelaskan lebih detail kemajuan yang telah dicapai saat ini. Target hasil kegiatan pengembangan GBG pada tahun 2021 ini adalah diperolehnya desain maupun purwarupa GBG penghantar bahan semai NaCl Powder 2-5 mikrometer.

ANALISIS SIKLON TROPIS SEROJA

Siklon tropis merupakan fenomena alam yang terjadi karena sistem tekanan rendah yang terbentuk di atas perairan tropis yang cenderung hangat. Kecepatan angin maksimum yang ditimbulkan sekurang-kurangnya 34 knot atau 62 km/jam di dekat pusat siklon. Siklon tropis yang terbentuk di belahan bumi utara akan bergerak ke barat atau barat laut. Sedangkan, siklon tropis yang terbentuk di belahan bumi selatan akan bergerak ke barat atau barat daya. Pergerakan dari siklon tropis ini cenderung menjauhi ekuator dan akan melemah secara perlahan dan punah saat mencapai suhu dingin.

Dalam pembentukannya, siklon tropis membutuhkan beberapa kondisi atmosfer yang mendukung, beberapa diantaranya adalah:

  1. Temperatur permukaan laut/ SST yang hangat (setidaknya 27 derajat Celcius), 
  2. Ketidakstabilan atmosfer,
  3. Kelembapan udara yang tinggi pada lapisan atmosfer bawah hingga menengah,
  4. Gaya coriolis yang dapat menjaga tekanan rendah di pusatnya,
  5. Gangguan atmosfer yang sudah ada sebelumnya
  6. Vertical wind shear yang rendah. 

Bibit siklon tropis Seroja tumbuh dan menjadi siklon tropis pada tanggal 5 April 2021 di sekitar Nusa Tenggara Timur.  Bibit siklon Seroja ini menyebabkan peningkatan curah hujan di sekitar terjadinya siklon dan menyebabkan cuaca ekstrim di Nusa Tenggara Timur. Siklon tropis umumnya terjadi di lintang > 10 derajat. Sehingga, siklon Seroja ini merupakan siklon tropis yang jarang terjadi dan merupakan anomali. Berikut analisis terjadinya siklon tropis Seroja yang muncul di NTT.

1. SST

Data temperatur muka laut (SST) rata-rata 7 hari terakhir di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) memperlihatkan kondisi yang lebih hangat daripada daerah sekitarnya. Suhu rata-rata mencapai 28 - 30 °C. Kondisi perairan yang lebih hangat ini akan menjadikan tekanan di daerah NTT ini akan menjadi lebih rendah dari kondisi sekitarnya. SST ini juga dapat menjadi salah satu faktor indikasi terjadinya banyak aktivitas konvektif (pertumbuhan awan hujan) di sekitar NTT.

 

Gambar 1. Temperatur muka laut (Sea Surface Temperature)

(Sumber: https://ncics.org/pub/mjo/v2/sst/australia.total.7.png)

 

2. ISOBAR

Dari analisis tekanan (isobar) mulai tanggal 1 April sudah memperlihatkan daerah NTT menjadi pusat tekanan rendah (L), tekanan udara di wilayah NTT pada tanggal 1 - 3 April berkisar antara 1006 - 1008 mb. Kemudian terus turun hingga mencapai kondisi Tropical Depression (D/Bibit Badai) pada tanggal 4 April 2021 dengan tekanan sebesar 994 mb. Dengan adanya pusat tekanan rendah ini maka akan terjadi penumpukan massa udara di sekitar NTT karena adanya pergerakan angin yang bergerak dari daerah tekanan udara yang lebih tinggi ke daerah tekanan rendah di NTT ini. Kondisi saat ini, Pusat depresi tekanan rendah sudah berubah menjadi TC (Tropical Cyclone) Seroja dengan arah pergerakan pusat tekanan rendah bergerak ke arah Barat Daya.

Gambar 3. Isobar (Tekanan Atmosfer)

(Sumber: http://web.meteo.bmkg.go.id/id/pengamatan/analisis-isobar)

 

3. Angin

Penurunan tekanan udara di wilayah NTT ini sudah dimulai sejak tanggal 1 April 2021, yang mengakibatkan mulai berkumpulnya massa udara di sekitar NTT yang berasal dari Laut China Selatan, dan juga Samudera Pasifik bagian barat. Pada tanggal 4 April dengan semakin rendahnya tekanan di wilayah NTT, massa udara yang berasal dari Samudera Hindia juga ikut tertarik ke wilayah NTT. Kondisi penumpukan massa udara akibat konvergensi ini yang mengakibatkan terjadinya hujan dengan intensitas sangat lebat di wilayah NTT.

Gambar 4. Analisis gradient angin 1-4 April 2021 Jam 19:00 WIB

(Sumber: http://www.bom.gov.au/)

 

4. Maden Julian Oscilation dan gelombang atmosfer

Saat ini kondisi fenomena regional juga sangat mendukung untuk terjadinya kondisi curah hujan yang sangat lebat di wilayah NTT. MJO dalam kondisi aktif dan berada di kuadran 5 (wilayah Timur Maritime Continent). Selain MJO, gelombang equatorial rossby juga sedang menguat di wilayah NTT sehingga menambah faktor terjadinya hujan yang sangat lebat di wilayah tersebut.

Gambar 5. MJO Index (kiri) dan Outgoing Longwave Radiation (kanan)

(Sumber: http://www.bom.gov.au/climate/mjo/graphics/rmm.phase.Last40days.gif.small.gif

https://ncics.org/pub/mjo/v2/map/olr.cfs.all.global.1.png)

 

5. Hujan

Siklon tropis Seroja menyebabkan terjadinya hujan cuaca ekstrim di Pulau Timor dan pulau-pulau lain disekitarnya. Sejak mulai terbentuknya pusat tekanan rendah, bibit siklon tropis Seroja sudah menyebabkan curah hujan yang tinggi di pulau-pulau di Nusa Tenggara Timur (NTT). Curah hujan yang terukur di Stasiun Klimatologi Kupang sebesar 332.1 mm/hari dan Stasiun Meteorologi Eltari sebesar 306 mm/hari. Dengan curah hujan yang diakibatkan oleh siklon tropis Seroja ini berpotensi menyebabkan banjir. Curah hujan yang cukup tinggi ini disebabkan oleh penumpukan massa udara yang cukup masif disekitar terjadinya siklon.

 

Gambar 6. Intensitas hujan harian Indonesia 1-4 April 2021 Jam 19:00 WIB

(Sumber: http://web.meteo.bmkg.go.id/id/pengamatan/pengamatan-harian)

 

6. Pergerakan TC Seroja

Pergerakan siklon tropis Seroja diperkirakan akan bergerak ke arah Barat Daya, atau menjauhi wilayah Indonesia. Pergerakan siklon tropis ini cenderung mengikuti arah suhu muka air laut yang lebih tinggi/mencari daerah dengan tekanan yang lebih rendah. Walaupun pergerakan pusat siklon tropis diperkirakan akan menjauhi wilayah Indonesia, tetapi intensitas TC Seroja akan meningkat karena masih di area perairan yang cukup hangat, sehingga perlu diwaspadai terjadinya angin kencang, gelombang pasang dan hujan cukup lebat di wilayah ekor (rain-band) TC Seroja ini.

 

Gambar 7. Lokasi TC Seroja (kiri) dan prakiraan gerakan TC Seroja (kanan)

(Sumber: http://meteo.bmkg.go.id/data/tc/peta_siklon.png

http://www.bom.gov.au/fwo/IDW60280.png?1617605796188)

 

 

[Repost] BPPT Hentikan Modifikasi Cuaca Jabodetabek, Beralih ke Karhutla Riau

[Repost dari Berita Satu]

BPPT Hentikan Modifikasi Cuaca Jabodetabek, Beralih ke Karhutla Riau

Jumat, 5 Maret 2021 | 16:51 WIB
Oleh : Natasa Christy Wahyuni / CAH

Jakarta, Beritasatu.com – Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BB TMC) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Kementerian Riset dan Teknologi telah menghentikan upaya modifikasi cuaca di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) sejak Selasa (2/3/2021).

Operasi tersebut dihentikan berdasarkan evaluasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menilai tidak ada lagi potensi hujan lebat atau cuaca ekstrem.

“TMC Halim sudah berakhir 3 Maret karena cuaca Jabodetabek menurut BMKG sudah kondusif sehingga ke depan tidak ada potensi seperti kondisi tanggal 18-19 Februari, jadi relatif aman,” kata Kepala BB TMC Jon Arifian saat dihubungi Beritasatu.com, Jumat (5/3/2021).

Jon menjelaskan BB TMC saat ini akan beralih kepada operasi modifikasi cuaca di daerah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau. Jon mengaku masih melakukan koordinasi dan menunggu surat resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selaku otoritas anggaran untuk kondisi darurat.

“Rencananya awal Maret, sekitar awal minggu depan menunggu surat dari BNPB,” ujar Jon.

Jon mengatakan pada tahap awal akan mengirimkan sekitar 20 ton garam dapur (NaCl), namun penggunaannya disesuaikan dengan kondisi karhutla di sana. Menurutnya, jika operasi TMC dilakukan dalam periode lama, maka akan dilakukan penambahan bahan semai garam.

“Pengalaman tahun 2020, di Riau sampai 94 ton karena operasi dimulai dari Maret sampai Oktober, sehingga tergantung eskalasi di lapangan seperti apa,” ujarnya.

Jon menyebut hampir seluruh wilayah Provinsi Riau merupakan lahan gambut, namun titik hotspot paling sering berada di sektor timur laut, utara, dan timur, serta perbatasan dengan Provinsi Jambi. Lokasi-lokasi hotspot tersebut akan menjadi sasaran dari operasi modifikasi cuaca.

“Di pesisir Riau itu paling banyak lahan gambut,” ujarnya.

Jon berharap kondisi cuaca yang masih turun hujan dan berawan bisa membantu operasi modifikasi cuaca di Provinsi Riau. “Dengan modal itu kita berharap operasi dilakukan secepat mungkin, tanah masih bisa kita optimalkan kebasahannya,” katanya.

Terkait modifikasi cuaca Jabodetabek, Jon menjelaskan operasi digelar selama 10 hari pada 21 Februari-2 Maret 2021 dengan total bahan semai 26,8 ton garam. Dia mengatakan modifikasi cuaca terakhir atau hari ke-10 dilakukan dengan bantuan pesawat TNI CASA 212 untuk menebar 800 kg NaCl ke sektor barat laut dan barat daya Jabodetabek karena angin masih berasal dari kedua arah tersebut.

Jon menambahkan total anggaran yang dikeluarkan untuk modifikasi cuaca selama 10 hari di Jabodetabek sekitar Rp 1,8 miliar.

“BNPB selaku otoritas yang memutuskan selesai atau tidaknya program modifikasi cuaca dan pihak yang mengerahkan dukungan dana darurat,” lanjutnya.

[Repost] Modifikasi Cuaca di Riau, BPPT Siapkan 10 Ton Bahan Semai

[Repost Media Indonesia]

BADAN Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyapkan sebanyak 10 ton bahan semai untuk melakukan teknologi modifikasi cuaca (TMC) di wilayah Riau untuk meredam meluasnya area kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sana. "Saat ini kita sedang siapkan untuk pengiriman logistik ke wilayah Riau. Sebanyak 10 ton bahan semai disiapkan untuk operasi TMC di wilayah tersebut," kata kata Kepala BBTMC-BPPT Jon Arifian kepada Media Indonesia, Minggu (7/3). Selain bahan semai, berdasarkan hasil koordinasi dengan pihak TNI, operasi penyemaian akan dilakukan dengan menggunakan pesawat Casa 212, CN-295, dan Hercules. Adapun, Jon menyatakan operasi TMC Riau akan dilakukan pada Selasa (9/3) mendatang. "Besok mungkin beberapa personil sudah mulai berangkat ke sana. Dukungan pesawat sedang koordinasikan dengan pihak TNI. Kemungkinan Selasa sudah operasi di riau. Kalau tidak ada kendala," bebernya. Terkait dengan titik penyemaian, rencananya TMC akan dilakukan di area pesisir timur Provinsi Riau yang merupakan titik awan di atas area hotspot Riau. "Tapi untuk itu nanti akan dilakukan koordinasi dengan BMKG dan melihat kondisi faktual di lapangan," ucapnya. Terpisah, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK Basar Manulang mengungkapkan, selain di Riau, operasi TMC akan dilakukan di wilayah Kalimantan Barat. "Hari Selasa atau Rabu ini, operasi TMC sudah akan dulakukan di Riau. Untuk Kalimantan Barat akhir Minggu ini," ungkap Basar. "Berdasarkan pantauan KLHK , titik hotspot di Riau dan Kalbar hari ini 7 Maret 2021 untuk hotspot dengan level high convident (di atas 80%) tidak ada," pungkasnya. (H-2) karhutla KLHK Riau BPPT Modifikasi Hujan Buatan

Sumber: https://m.mediaindonesia.com/humaniora/389120/modifikasi-cuaca-di-riau-bppt-siapkan-10-ton-bahan-semai

BADAN Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyapkan sebanyak 10 ton bahan semai untuk melakukan teknologi modifikasi cuaca (TMC) di wilayah Riau untuk meredam meluasnya area kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sana. "Saat ini kita sedang siapkan untuk pengiriman logistik ke wilayah Riau. Sebanyak 10 ton bahan semai disiapkan untuk operasi TMC di wilayah tersebut," kata kata Kepala BBTMC-BPPT Jon Arifian kepada Media Indonesia, Minggu (7/3). Selain bahan semai, berdasarkan hasil koordinasi dengan pihak TNI, operasi penyemaian akan dilakukan dengan menggunakan pesawat Casa 212, CN-295, dan Hercules. Adapun, Jon menyatakan operasi TMC Riau akan dilakukan pada Selasa (9/3) mendatang. "Besok mungkin beberapa personil sudah mulai berangkat ke sana. Dukungan pesawat sedang koordinasikan dengan pihak TNI. Kemungkinan Selasa sudah operasi di riau. Kalau tidak ada kendala," bebernya. Terkait dengan titik penyemaian, rencananya TMC akan dilakukan di area pesisir timur Provinsi Riau yang merupakan titik awan di atas area hotspot Riau. "Tapi untuk itu nanti akan dilakukan koordinasi dengan BMKG dan melihat kondisi faktual di lapangan," ucapnya. Terpisah, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK Basar Manulang mengungkapkan, selain di Riau, operasi TMC akan dilakukan di wilayah Kalimantan Barat. "Hari Selasa atau Rabu ini, operasi TMC sudah akan dulakukan di Riau. Untuk Kalimantan Barat akhir Minggu ini," ungkap Basar. "Berdasarkan pantauan KLHK , titik hotspot di Riau dan Kalbar hari ini 7 Maret 2021 untuk hotspot dengan level high convident (di atas 80%) tidak ada," pungkasnya. (H-2)

Sumber: https://m.mediaindonesia.com/humaniora/389120/modifikasi-cuaca-di-riau-bppt-siapkan-10-ton-bahan-semai

[Repost] 23,6 Ton Garam Sudah Ditebar di Atas Selat Sunda demi Cegah Banjir di Jabodetabek

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "23,6 Ton Garam Sudah Ditebar di Atas Selat Sunda demi Cegah Banjir di Jabodetabek",

Klik untuk baca
Penulis : Nirmala Maulana Achmad
Editor : Sandro Gatra

JAKARTA, KOMPAS.com - Modifikasi cuaca untuk mencegah banjir di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi ( Jabodetabek) masih terus dilakukan. Kepala Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT Jon Arifian mengatakan, hingga saat ini, total 23.600 kilogram atau 23,6 ton garam sudah ditebar dari atas pantai timur Lampung, Selat Sunda, Ujung Kulon, sampai ke perairan selatan Provinsi Banten. "Sampai dengan hari ini sudah 23,6 ton garam. Hari ini kemungkinan terakhir," kata Jon saat dikonfirmasi, Senin (1/3/2021).
Jon mengatakan, tidak ada lagi cuaca peringatan ekstrem dari BMKG sehingga program modifikasi cuaca dapat diakhiri. "Berakhirnya program masih menunggu keputusan BNPB, sedang diusulkan," ujar Jon. Adapun teknologi modifikasi ini dimulai sejak Minggu (21/2/2021). Ini dilakukan merespons peringatan BMKG yang memprediksi akan terjadi cuaca ekstrem di wilayah Jabodetabek hingga akhir Februari. Upaya ini merupakan kerja sama antara BPBD DKI Jakarta, BMKG, BPPT, dan didanai oleh BNPB, sedangkan pesawat dari TNI AU.
Jon mengatakan, tujuan modifikasi cuaca ini untuk menimimalkan curah hujan. "Sehingga potensi curah hujan yang terjadi tidak berdampak banjir atau genangan air. Itu tujuannya," kata dia

Statistik Pengunjung

2.png9.png8.png3.png9.png8.png
Today113
Yesterday221
This week518
This month5655
Total298398

Kontak Kami

 

Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) - BPPT

Gedung Ir. Mohammad Soebagio, Geostech
Kawasan Puspiptek Serpong - Tangerang Selatan 15314
Telp. (021) 75791377 ext 4175 ; Faks. (021) 75791409
e-mail: ka-bbtmc@bppt.go.id  ;   sekr-bbtmc@bppt.go.id