Instagram  : @BBTMC_BPPT     Twitter : @BBTMC_BPPT

Berita Internal

Berita Internal

Berita Internal UPT Hujan Buatan

Tinggi Muka Air Waduk Duriangkang dan Waduk Sei Ladi Batam Naik

BATAM, 18 Juni 2020 : Selama seminggu operasi TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca) di wilayah Batam telah menghasilkan volume hujan total mencapai 32,1 juta meterkubik. Waduk Duriangkang dan Waduk Sei Ladi saat ini telah mengalami kenaikan elevasi TMA (Tinggi Muka Air). Hal itu terungkap saat kunjungan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza dan Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam yang juga menjabat Walikota Batam Muhammad Rudi ke Posko TMC Batam yang berada di area Bandara Hang Nadiem hari ini. Kedatangan Kepala BPPT didampingi Deputi TPSA BPPT Yudi Anantasena dan Plh Kepala BBTMC-BPPT Jon Arifian .

 

“Batam merupakan kawasan yang strategis, terutama untuk sektor industri. Ketersediaan air baku menjadi hal krusial yang perlu dikelola dengan baik agar mampu memenuhi kebutuhan air bagi sektor domestik maupun untuk keperluan sektor industri. Mudah-mudahan hasil TMC di Batam kali ini cukup positif dan nantinya dapat menjadi bagian integral dalam pengelolaan air waduk di Pulau Batam. Dengan perencanaan yang lebih baik, nilai manfaat hasil pelaksanaan TMC dapat memberikan hasil yang lebih optimal,” ujar Hamam Riza di Batam, Kamis (18/6/2020). Hal senada disampaikan Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Muhammad Rudi. “Air waduk merupakan sumber utama air baku di Pulau Batam. Oleh karena itu, kami sangat berharap agar BPPT dapat membantu kami dalam menambah ketersediaan air di sejumlah waduk yang ada di Pulau Batam. Jika hasil TMC kali ini nanti mampu memberikan tambahan air yang cukup signifikan di sejumlah waduk untuk disimpan sehingga nantinya kami tidak mengalami krisis air baku saat musim kemarau tiba, tentu ini akan sangat luar biasa,” tuturnya.

Jon Arifian, selaku Pelaksana Harian Kepala BBTMC (Plh. Ka.BBTMC) mengatakan berdasarkan hasil analisis data curah hujan TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) yang dihitung oleh Tim Posko TMC selama tujuh hari operasi berlangsung, total volume air hujan yang jatuh di dalam wilayah tangkapan (catchment area) Waduk Duriangkang capai 32,1 juta meter kubik. “Posko TMC pantau Waduk Duriangkang dan Waduk Sei Ladi telah mengalami kenaikan elevasi TMA, masing-masing setinggi 8 cm dan 3 cm. Sesuai kontrak, pelaksanaan TMC di P. Batam direncanakan akan berlangsung selama 30 hari. Mudah-mudah di sisa waktu ke depan masih ada potensi cuaca yang dapat dioptimalkan oleh Tim TMC untuk menambah ketersediaan air waduk-waduk lainnya di Pulau Batam,” ujar Jon Arifian.

Tercatat ada 9 waduk yang saat ini dikelola BP Batam, yaitu Waduk Sei Harapan, Waduk Sei Ladi, Waduk Mukakuning, Waduk Sei Nongsa, Waduk Duriangkang (terbesar), Waduk Baloi, Waduk Tembesi, Waduk Rempang dan Waduk Sei Gong. Diantara kesembilan waduk tersebut, Waduk Duriangkang merupakan waduk dengan daerah tangkapan air terbesar yang mampu memasok air baku 70 persen dari seluruh kebutuhan masyarakat di Batam. Koordinator TMC-BPPT Posko Batam Budi Harsoyo mengatakan operasi TMC di Batam ini merupakan operasi tersulit. “Catchment area Waduk Duriangkang yang menjadi target utama operasi TMC di Pulau Batam hanya seluas 75,18 km2, sempit sekali. Bandingkan dengan luas catchment area Waduk Kaskade Citarum di Jawa Barat yang luasnya sekitar 6.080 km2. Jadi, kami harus benar-benar bisa memanfaatkan window of opportunity yang sangat singkat sekali. Terlambat 10 menit saja kami sampai ke awan target yang akan disemai, hasil hujannya bisa jatuh diluar catchment dan tidak memberikan hasil apa-apa bagi inflow di waduk target. Oleh karenanya, saat ini kami disini dituntut untuk selalu ekstra siap dan ekstra sigap,” ujarnya.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala BBTMC-BPPT Tri Handoko Seto menilai tim TMC sudah bekerja sangat maksimal ditengah pandemi Covid 19. “Operasi TMC di Batam dilaksanakan bersamaan dengan operasi TMC di Sumsel dan Riau. Tugas tim BBTMC tidak berkurang di era pandemi. Namun, kami tetap mengutamakan keselamatan dengan menerapkan protokol kesehatan yang berlaku,” ujarnya Tri Handoko Seto di sela-sela Pendidikan Lemhanas.

Sementara itu, tim BPPT juga menemukan permasalahan eceng gondok di badan air waduk. “Badan air waduk cukup banyak ditumbuhi oleh tanaman eceng gondok. Jika sekiranya diperlukan, BPPT juga siap bekerjasama dengan BP Batam untuk mengatasi permasalahan eceng gondok di waduk dengan teknologi remediasi,” ujar Yudi Anantasena, Deputi TPSA BPPT. Teknologi remediasi atau bioremediasi yaitu memanfaatkan mikroba (jamur atau bakteri) untuk mengurangi polutan atau membersihkan kontaminasi lingkungan. (BBTMC)

Operasi TMC Riau Tetap Dilaksanakan Pada Hari Idul Fitri 1441 H

JAKARTA, 25 Mei 2020 : Tim Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC-BPPT) Riau tetap melaksanakan operasi modifikasi cuaca saat Hari Idul Fitri. Total volume air hujan yang tercatat sudah mencapai 33,8 juta m3. “Hari ini tim TMC masih dilaksanakan satu sorti penerbangan di wilayah Pelalawan, Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir. Lebaran hari pertama Minggu kemarin, melakukan satu sorti penerbangan penyemaian awan di wilayah Kab. Bengkalis, Siak dan Kep. Meranti, ujar Tri Handoko Seto, Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC-BPPT) di Jakarta, Senin (25/5/2020). Potensi awan saat ini, kata Tri Handoko Seto, harus tetap dioptimalkan melalui modifikasi cuaca untuk pembasahan lahan gambut. Kami pantau melalui radar secara near realtime setiap hari, sehingga diambil keputusan dilaksanakan penyemaian awan atau tidak, saat itu juga. Sehingga saat Hari Raya Idul Fitri pun, kami tetap harus laksanakan operasi, paparnya.

 

 Operasi TMC pencegahan kebakaran hutan tahun ini dilaksanakan BBTMC-BPPT sejak 13 Mei 2020 atas inisiasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerjasama dengan BMKG, BNPB dan BRG (Badan Restorasi Gambut). Hasil pantauan satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Missing) selama operasi TMC berjalan 13-24 Mei 2020, terpantau hujan merata di seluruh wilayah Prov Riau dengan curah hujan terbesar berada di Bengkalis, Siak, Dumai, Rohil dan Kep. Meranti sebesar 80-300 mm. Sedangkan wilayah Prov. Riau lainnya curah hujan pada kisaran 50-200 mm kecuali Rokan Hulu dengan curah hujan hanya sekitar 10- 120 mm. “Hasilnya cukup baik guna pembahasan lahan gambut. Mudah-mudahan akan terus berlanjut, ujar Faisal Sunarto, Koordinator Lapangan BBTMC Posko TMC Riau. Faisal Sunarto mengatakan, hingga Minggu (24 Mei 2020) total volume air hujan yang tercatat sudah mencapai 33,8 juta m3 dengan rata-rata curah hujan wilayah harian sekitar 7.6 mm. Sedangkan akumulai curah hujan aktual AWS/ARG dari BMKG mencatat angka 83.3 mm.  Jumlah NaCL yang dgunakan selama operasi berlangsung hingga 25 Mei sekitar 8,8 ton. Sedangkan sorti penyemaian yang telah dilaksanakan sebanyak 11 kali penerbangan.

 

    

 Kepala Bidang Pelayanan Teknologi BBTMC Sutrisno mengatakan berdasarkan informasi HOTSPOT (MODIS dan SNPP dgn prob > 80%), jumah hotspot di wilayah Riau hingga 25 Mei terpantau nol titik. Sedangkan, untuk target pembasahan lahan dipantau berdasarkan data tinggi muka air lahan gambut (TMA Lahan Gambut), ada trend meningkat kendati masih dibawah nilai aman dari yang ditetapkan BRG, ujarnya. Sutrisno mengatakan, TMC Pencegahan Karhutla di Riau dijadwalkan selama 15 hari . Setelah Riau, kami persiapkan TMC untuk wilayah Sumatera Selatan sesuai arahan KLHK. Tujuannya sama untuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan , ujarnya. Berdasarkan prediksi BMKG, musim panas diprediksi mencapai puncaknya pada periode Juni hingga Agustus. TMC Pencegahan Karhutla dilaksanakan terlebih dulu di Riau karena mayoritas Titik Pemantauan Tinggi Muka Air Tanah (TP-TMAT) lahan gambut di Provinsi Riau, telah menunjukkan pada level waspada. (BBTMC)

BBTMC Menyampaikan Apresiasi yang Setinggi-tingginya Kepada Seluruh Tenaga Medis, Dokter, Perawat dan Para Relawan

 

Dengan menerapkan social distancing, pemakaian masker saat keluar rumah, menjaga kesehatan dan mematuhi peraturan yang ada, kita telah membantu mengurangi penyebaran pandemi COVID-19. Kami seluruh warga Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh tenaga medis, dokter, perawat dan para relawan yang berjuang di garda terdepan dalam penanganan Virus COVID-19. Teriring doa dan yang terbaik untuk garda terdepan yang mengatasi pandemi COVID-19

#bpptsolidsmartspeed
#bbtmcmelesat
#cegahcovid19
#dirumahaja

Tim TMC Pengendalian Karhutla Mulai Laksanakan Penyemaian Awan

Jakarta, 13 Mei 2020 : Penerbangan penyemaian awan di Provinsi Riau dan Jambi dilaksanakan menunggu awan potensial. Sekitar 20 ton garam telah disiapkan di Posko TMC Lanud Roesmin Nurjadin untuk pelaksanaan operasi TMC selama 15 hari kedepan. “ Pesawat baru didatangkan kemarin dari Skuadron Udara 4 Malang, tipe Casa 212 reg A-2107. Sehingga pelaksanaan akan dimulai segera,” ujar Tri Handoko Seto, Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC-BPPT) di Jakarta, Rabu (13/5/2020). Menurut Tri Handoko Seto, operasi TMC di Provinsi Riau merupakan kelanjutan operasi sebelumnya yang telah dilaksanakan pada 11 Maret- 2 April lalu. “Saat ini Posko Pekanbaru menjangkau hingga Provinsi Jambi selama 15 hari mendatang,” ujarnya.


Faisal Sunarto, koordinator lapangan Posko TMC Pekanbaru mengatakan wilayah rawan sepanjang Pesisir Timur Riau hingga Jambi menjadi target TMC kali ini. “Potensi awan di wilayah Riau dan Jambi dalam dua minggu kedepan cukup baik untuk dilaksanakan penyemaian,” ujarnya. Posko TMC Pekanbaru dipusatkan di Lanud Roesmin Nurjadin. Tim TMC diperkuat oleh 6 staf BBTMC termasuk Korlap dan Flight Scientist ditambah pilot dan co pilot. Sementara untuk bahan semai, kata Faisal, telah dipasok sekitar 20 ton garam NaCL guna kebutuhan selama operasi TMC berlangsung. Yudi Anantasena, Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam, BPPT mengatakan pada operasi sebelumnya, tim TMC mampu meredam hotspot di Provinsi Riau. ”Pada Maret hingga awal April, dilaporkan hampir setiap hari terjadi hujan. Hotspot turun hingga sempat 0 titik,” ujarnya. Selain menurunkan jumlah hotspot, operasi TMC di Riau dan Jambi, kata Yudi Anantasena, ditargetkan membasahi lahan-lahan gambut di musim kemarau, dengan mengisi kanal-kanal, embung dan kolam-kolam retensi areal guna mencegah lahan gambut tersebut terbakar. Data BBTMC mencatat, operasi TMC 11 Maret- 2 April lalu, menghasilkan air hujan capai 97.8 Juta m3, dan akumulasi rata-rata curah hujan aktual selama periode TMC sebesar 227,2 mm. Sementara itu, lanjut Yudi, pelaksanaan TMC Karhutla di Sumsel direncanakan dimulai akhir Mei 2020.

  

 


Terkait pencegahan pandemic Covid-19, Jon Arifian, Kepala Bidang Umum BBTMC menjelaskan operasional TMC di lapangan juga harus mengacu pada protocol kesehatan yang telah ditetapkan. “Kami mengacu pada SE Kepala BPPT No.1/2020 yang diperbaharui SE No.2/2020. Intinya semua tim harus dilengkapi alat pelindung diri saat bertugas. Juga penyediaan sanitizer yang cukup dan dilakukan penyemprotan desinfektan secara rutin di lokasi bertugas,” paparnya. Seperti diketahui, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah berkoordinasi dan membahas bersama BMKG, BPPT, BNPB, BRG (Badan Restorasi Gambut), dan Kementerian Pangan untuk mengantisipasi musim kemarau tahun ini. Pada Senin (11/5) telah dilaksanakan Peluncuran TMC Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan 2020 yang dilaksanakan secara virtual. Rencananya TMC Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan dalam waktu dekat juga akan menjangkau wilayah Kalimantan. (BBTMC)

BPPT Mulai Laksanakan Operasi TMC Siaga Darurat Karhutla di Provinsi Riau

Riau, 11 Maret 2020 : Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC- BPPT) mulai terjunkan tim untuk melaksanakan siaga darurat kebakaran hutan dan lahan melalui operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di Provinsi Riau. Tim TMC yang didukung TNI AU akan mengoptimalkan potensi awan menjadi hujan guna pembasahan lahan-lahan gambut dan pengisian embung-embung penampungan air untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang lebih luas dan tidak terkendali. “Pelaksanaan operasional TMC tahun ini merupakan salah satu tindakan pencegahan kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau. Berdasarkan historis fluktuatif jumlah titik hotspot meningkat pada Maret dan periode puncak pada Agustus hingga September, ujar Tri Handoko Seto, Kepala BBTMC-BPPT di Riau, Rabu (11/3/2020). Menurut Tri Handoko Seto, operasional TMC di Provinsi Riau bertujuan tidak hanya untuk mematikan titik api kebakaran hutan dan lahan sebagai sumber bencana kabut asap, tetapi juga untuk menjaga kelembaban tanah gambut agar tidak sampai menjadi kering. Faktor kelembaban tanah gambut menjadi hal yang penting untuk terus dipantau secara kontinyu guna mengetahui tingkat kekeringan yang dapat menjadi sinyal kerawanan bencana karhutla di suatu wilayah. Strategi pelaksanaan TMC dapat lebih difokuskan untuk membasahi atau re-wetting area gambut yang dinilai mempunyai tingkat kekeringan yang perlu diwaspadai. Dengan tetap terjaganya kelembaban tanah pada area lahan gambut, maka potensi terjadinya kebakaran di area lahan gambut akan semakin berkurang, papar Seto.


Budi Harsoyo, Kepala Bidang Penerapan TMC BBTMC mengatakan untuk membangun sistem monitoring di area lahan gambut, BBTMC telah mengembangkan Sistem Monitoring Online Kandungan Air Lahan Gambut untuk Early Warning System Karhutla (SMOKIES) dengan menempatkan sejumlah instrumen ukur parameter cuaca dan hidrologi berupa Automatic Weather Station (AWS) dan Sensor Ultrasonik untuk pengukuran Tinggi Muka Air (TMA) lahan gambut.  “Kedua instrumen ini berfungsi untuk mengukur parameter cuaca dan TMA lahan gambut hingga kedalaman 1.5 meter dan datanya secara real time ditransmisikan ke server di BPPT setiap 1 jam. Penempatan instrumen SMOKIES ini perlu diperbanyak lokasi pengukurannya agar memberikan gambaran monitoring tinggi muka air lahan gambut yang representative di beberapa provinsi rawan karhutla, papar Budi Harsoyo. Posko TMC Karhutla Riau dipusatkan di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru dengan dukungan pesawat TNI-AU CASA 212 milik TNI AU dari Skuadron 4, Malang. Kami akan memulai penerbangan pertama hari ini, ujar Dwipa R.Soehoed, Koordinator Lapangan BBTMC. Pembiayaan pelaksanaan TMC Provinsi Riau bersumber dana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau.

Seperti diketahui, Provinsi Riau merupakan salah satu daerah yang paling rawan terkena dampak bencana kabut asap akibat karhutla. Bencana yang hampir terjadi setiap musim kemarau tersebut berdampak rusaknya keanekaragaman hayati dalam ekosistem hutan, gangguan kesehatan, juga berimbas terganggunya transportasi yang disebabkan kabut asap. Dalam beberapa tahun terakhir masalah kabut asap akibat karhutla di Indonesia bahkan menjadi sorotan negara-negara tetangga yang terkena dampak langsung maupun tidak langsung. Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT Yudi Anantasena mengatakan pelaksanaan operasi TMC di Provinsi Riau sesuai Instruksi Presiden nomor 03 tahun 2020 tentang Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan tanggal 28 Februari 2020. Dalam hal ini, lanjut Yudi Anantasena, BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) salah satunya mengemban tugas melaksanakan operasi modifikasi cuaca. Selain itu, kata Yudi, dalam Inpres nomor 03/2020 tentang Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan, BPPT juga mendapat tugas untuk mengembangkan Teknologi Pembukaan Lahan Tanpa Bakar melalui inovasi Bio-Peat. Inovasi BioPeat adalah inovasi untuk menyuburkan lahan gambut sehingga dapat dimanfaatkan untuk pertanian dan perkebunan, tanpa perlu pembakaran lahan. Ditujukan guna mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), ujarnya.

 

Pemanfaatan pupuk hayati BioPeat pada tanah gambut, lanjut Yudi, mampu meningkatkan pH tanah dari semula rata-rata pH 3,9 menjadi sekitar pH 5. “Dengan meningkatnya pH tanah gambut, sehingga tanah gambut menjadi lebih subur. Sehingga dapat ditanami tanpa membakar lahan, ujarnya. Sejak 2018, BPPT bekerjasama dengan PT. Riau Sakti United Plantations (PT.RSUP) telah membangun unit produksi Bio-Peat di di kawasan perkebunan PT.RSUP di Pulau Burung Kabupaten Indragiri Hilir. Produksi BioPeat terbukti dapat meningkatkan produktivitas tanaman Jagung sebesar 45 persen, buah Nanas grade A sebesar 31 persen, dan meningkatkan kadar kemanisan buah Naga hingga mencapai rata-rata Brix 15 persen, diatas nilai brix buah Naga di pasaran yang berkisar 11 persen. “Selain memperbaiki kualitas hasil panen, BioPeat juga mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama, ungkap Yudi. Sementara itu, menurut Sutrisno, Kepala Bidang Pelayanan Teknologi BBTMC selain antisipasi bencana karhutla, BBTMC-BPPT saat ini tengah mempersiapkan kegiatan TMC di Daerah Tangkapan Air Waduk Citarum, Jawa Barat dan di Daerah Aliran Sungai Brantas, Jawa Timur untuk melakukan pengisian Waduk, serta di Danau Towuti, Sulawesi Selatan dan Danau Toba, Sumatera Utara untuk menjaga cadangan air guna kebutuhan PLTA. (BBTMC/SIMAN_BBTMC)

Statistik Pengunjung

1.png8.png0.png4.png6.png5.png
Today52
Yesterday139
This week52
This month837
Total180465

Kontak Kami

Gedung Ir. Mohammad Soebagio
Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) - BPPT, GEOSTECH
Kawasan PUSPIPTEK Serpong - Tangerang Selatan 15314
Telp. (021) 75791377 ext 4175 ; Faks. (021) 75791409
e-mail:
ka-bbtmc@bppt.go.id  ;   sekr-bbtmc@bppt.go.id