Instagram  : @BBTMC_BPPT     Twitter : @BBTMC_BPPT

Berita Internal

Berita Internal

Berita Internal UPT Hujan Buatan

OPERASI TMC AKAN MANFAATKAN FLARE DALAM NEGERI

 

Jakarta, 20 Agustus 2021 : Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC-BPPT) akan memanfaatkan bahan semai Flare/CoSAT dalam negeri dalam operasi Teknologi Modifikasi Cuaca di masa mendatang. Flare CoSAT (Cloud Seeding Agent Tube ) 1000 produksi PT Pindad tersebut telah digunakan dalam operasi teknologi modifikasi cuaca untuk menambah tinggi muka air Danau Toba pada April 2021.

“Operasi modifikasi cuaca untuk menambah tinggi muka air Danau Toba tersebut sekaligus menjadi tonggak sejarah terlepasnya Indonesia dari ketergantungan impor flare dari negara asing,” ujar Samsul Bahri, Perekayasa Ahli Utama, BBTMC – BPPT dalam Webinar Potemsi Pemanfaatan TMC Berbasis Flare di Jakarta, Jum’at (20/8/2021).

Sebelumnya, produk Flare/CoSAT yang digunakan dalam operasi TMC diimpor dari Amerika Serikat. Flare adalah bahan semai yang bersifat higroskopis terbuat dari bahan NaCl dan CaCl2. Kemudian flare ini akan dibakar dan  menghasilkan partikel seperti asap, dimana sifat asap ini  ringan sehingga mudah menyebar dan dianggap sebagai medium penghantar material higroskopis ke seluruh bagian awan paling efektif. ”TMC berbasis flare adalah suatu teknik terkini dalam penyemaian awan dimana pelepasan partikel kimia ke dalam awan dilakukan dengan cara suar atau flare,” papar Samsul Bahri.

Samsul menambahkan, BPPT dan PT. Pindad (Persero) sebenarnya sejak 2010 sudah berhasil memproduksi flare dalam negeri. Namun, sertifikasi kelaikan baru dikeluarkan November 2020.  ” CoSAT 1000  sangat praktis, cepat dan mudah dalam operasionalnya. Partikel  CCN yang dihasilkan flare / CoSAT 1000 sangat halus  sekitar 0,7–3,3 mikron, dan tidak terjadi penggumpalan bahan semai,” ujarnya.

Kelebihan TMC berbasis flare, lanjut Samsul Bahri, waktu loading flare / CoSAT 1000 hanya beberapa menit siap diterbangkan pesawat, sehingga maksimal dalam mendapatkan window opportunity  atau menyemai di range periode life time  pertumbuhan awan. “Faktor ketinggian lokasi bandara  tidak berpengaruh, sehingga lebih efektif dan efisien, serta mendukung keberhasilan TMC yang tinggi,” ujarnya.

Menurut Yudi Anantasena, Deputi TPSA BPPT, potensi TMC dari tahun ke tahun semakin meningkat, terutama potensi TMC berbasi Flare/CoSAT 1000 yang memiliki nilai ekonomis tinggi di masa mendatang, baik untuk memenuhi ketersediaan air waduk/danau, pencegahan bencana Hidrometeorologi, dan untuk mendukung peningkatan aktivitas sektor pertambangan.
” Kedepannya teknologi Kecerdasan Artifisial (KA) dan IoT diharapkan dapat membantu BBTMC secara khusus dalam melaksanakan operasi TMC. KA menyediakan sebuah evidence-based forecasting terhadap kondisi wilayah daerah target TMC, sedangkan IoT dapat mendukung otomatisasi dalam pelaksanaan TMC terutama TMC berbasis Flare/CoSAT 1000 menggunakan metode Ground Base Generator. Selain itu, juga telah dijajaki riset penggunaan drone atau pesawat nir awak yang digunakan untuk menghantarkan bahan semai Flare/CoSAT ini ke dalam awan,” papar Yudi Anantasena.

Kendala Perijinan
Budi Harsoyo, Koordinator Bagian Umum BBTMC – BPPT menyoroti pengurusan ijin flare yang panjang, baik penggunaan, pengangkutan, penyimpanan, pengalihan penggunaan, pemilikan, serta pemusnahan. Sementara masa berlaku ijin yang singkat dan harus terus diperpanjang. “TMC sangat tergantung pada keberadaan awan dan cuaca yang sangat cepat berubah, sering terjadi peluang cuaca tersebut hilang dan operasi menjadi mundur atau tidak jadi dilaksanakan karena persyaratan dan ijin flare belum selesai,” ujarnya.

Menurut Budi Harsoyo, flare TMC meski dikategorikan sebagai handak (bahan peledak), namun bukan termasuk kategori high explosive, tetapi low explosive. “Karena penugasan TMC seringkali bersifat mendadak dan perlu reaksi cepat untuk tujuan darurat bencana, kiranya alur birokrasi perizinan flare dapat dipertimbangkan untuk disederhanakan  atau dikecualikan dibandingkan handak lain,” tandasnya.

Kepala BBTMC-BPPT Jon Arifian menuturkan TMC berbasis flare ini sudah mulai diuji coba sejak 1999, untuk pengisian DAS Larona (Danau Matano, Mahalona dan Towuti) di Sulawesi Selatan. Implementasinya melalui kerjasama riset 3 negara saat itu, yaitu BPPT (Indonesia), Amerika (Atmospheric Incorporated/dilanjutkan Weather Modification Incorporated) dan Canada (PT.Inco, Tbk – yang memanfaatkan DAS Larona tersebut pada saat itu).
 ”Hingga saat ini metode flare sudah beberapa kali digunakan dalam operasi TMC baik menggunakan pesawat Piper Cheyenne ataupun dari darat menggunakan menara GBG (Ground Based Generator). Seperti Operasi TMC pencegahan banjir Jabodetabek lalu dan operasi TMC untuk PLTA dan kebutuhan pertambangan,” paparnya. (BBTMC)

 

Implementasi Kecerdasan Artifisial dalam Mendukung Pelaksanaan Operasi TMC untuk Pencegahan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan

 

Pada hari selasa, 27 Juli 2021 telah diselenggarakan acara webinar dengan tema “Implementasi Kecerdasan Artifisial Dalam Mendukung Pelaksanaan Operasi TMC Untuk Pencegahan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan” yang diselenggarakan oleh Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) secara daring. Webinar ini dilaksanakan oleh BBTMC dalam rangka mensosialisasikan kegiatan riset dan inovasi di BPPT, khususnya di lingkungan BBTMC dalam pengimplementasian kecerdasan artifisial untuk mendukung operasi TMC di dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Dalam sambutannya, Kepala BPPT Dr. Ir. Hammam Riza M.Sc. IPU menjelaskan tentang arahan Presiden RI pada saat rakernas BPPT tahun 2021 yang menegaskan bahwa BPPT harus menjadi pusat kecerdasan teknologi Indonesia termasuk dalam upaya antisipasi maupun mitigasi Bencana. Lebih lanjut, Kepala BPPT menegaskan pula penugasan nasional BPPT terkait penanggulangan bencana kabut asap akibat karhutla sudah tertuang pada Instruksi Presiden No.3 tahun 2020, dimana BPPT ditugaskan oleh Bapak Presiden untuk melaksanan operasi TMC dan juga pembukaan lahan tanpa bakar untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. “Untuk menjadikan TMC sebagai salah satu solusi permanen penanggulangan karhutla, Operasi TMC harus dilaksanakan dengan teknologi yang cerdas, sehingga selaras dengan dua arah Presiden tersebut“ Lanjut Kepala BPPT.

Pada webinar kali ini, Deputi Kepala BPPT Bidang TPSA Ir. Yudi Anantasena M.Sc. IPU menambahkan bahwa “Seringkali BBTMC diminta untuk melaksanakan operasi TMC untuk memadamkan api kebakaran pada saat puncak musim kering, dimana awan-awan potensial sudah sangat berkurang, sehingga operasi TMC menjadi kurang efektif dan efisien”. Lebih lanjut Deputi TPSA berharap kegiatan riset dan inovasi di BBTMC dapat menggunakan metodologi Kecerdasan Artifisial sehingga dapat menghasilkan sebuah tools yang dapat membantu mengambil keputusan waktu yang tepat untuk pelaksanaan TMC.

Para pemateri webinar ini merupakan para perekayasa dan peneliti muda yang tengah meneliti dan mengembangkan aplikasi menggunakan kecerdasan artifisial untuk dapat memprakirakan kerawanan suatu daerah terhadap bahaya kebakaran hutan dan lahan. Pembicara pertama, menerangkan bagaimana menjalankan pemodelan dengan metodologi KA pada data observasi hidrologi lahan gambut, khususnya tinggi muka air tanah (TMAT). Dengan menggunakan metodologi ETS dan random forest, dilakukan prediksi temporal tinggi muka air tanah untuk periode 1 – 3 bulan ke depan. Diharapkan dengan adanya prakiraan TMAT dalam beberapa waktu kedepan, dapat membantu pengambil keputusan, untuk menentukan kapan saatnya melakukan operasi TMC untuk melakukan pembasahan lahan gambut sebelum mulai kering sebagai Langkah pencegahan bencana karhutla. Pembicara berikutnya melengkapi kekurangan yang ada pada prakiraan TMAT, dimana jumlah sensor yang belum merata di seluruh provinsi, dan juga kualitas data yang tersedia terkadang tidak memenuhi syarat. Dengan menggunakan data-data dari citra satelit yang kemudian dilakukan pengolahan berupa quality control dan penginputan data citra tersebut ke dalam system kecerdasan artifisial, system ini dapat memprakirakan potensi bahaya karhutla dan juga potensi devegetasi suatu daerah.

Untuk mewujudkan BPPT sebagai pusat kecerdasan teknologi Indonesia, terutama pada bidang kecerdasan artifisial, maka dibutuhkan infrastruktur yang mampu melayani segenap kegiatan riset dan inovasi KA. Dalam hal ini BPPT telah melakukan investasi peralatan perangkat high performance computing untuk dapat melayani kegiatan pengembangan modelling KA. Salah satu perangkat yang telah dimiliki oleh BPPT saat ini adalah NVIDIA DGX A100. Diharapkan dengan tersedianya infrastruktur yang memadai, maka kegiatan pengembangan aplikasi yang memanfaatkan kecerdasan artifisal akan semakin berkembang

BBTMC Kembangkan GBG tipe Nozzle Jet Ejector Penghantar Bahan Semai NaCl Powder 2-5 mikrometer

Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca merupakan satu-satunya institusi di Indonesia yang menyediakan jasa layanan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Kecenderungan meningkatnya permintaan sektor kebencanaan ini banyak menyita infrastruktur pendukung utama TMC yaitu pesawat terbang yang merupakan wahana untuk menghantarkan bahan semai ke dalam awan. Sebagai alternatif wahana penyemaian awan, BBTMC telah mengembangkan dan mengaplikasikan Ground Based Generator (GBG) berupa menara setinggi 50 meter lokasi pembakaran bahan semai flare. GBG dengan bahan semai flare ini sudah diterapkan pada kegiatan TMC untuk pengisian waduk DAS Larona di Sulawesi Selatan.

Dengan telah dihasilkannya produk bahan semai serbuk NaCl pada distribusi 2-5 mikrometer, maka pada tahun 2021 pengembangan GBG diarahkan untuk dapat memanfaatkan bahan semai tersebut. “Tahun lalu BBTMC telah berhasil melakukan produksi bahan semai serbuk NaCl berukuran 2-5 mikrometer. Saat ini kita tengah melakukan pengembangan inovasi baru GBG untuk menghantarkan bahan semai tersebut ke dalam awan dari darat” kata Jon Arifian Kepala BBTMC-BPPT.

“Dalam mengembangkan kapasitas GBG ini, kami bekerjasama dengan unit lainnya di BPPT yaitu Balai Teknologi Termodinamika Motor dan Propulsi dalam memanfaatkan instrumen Nozzle Jet Ejector untuk mengarahkan bahan semai powder lebih jauh secara vertikal. Kita menargetkan agar bahan semai ini dapat terlontar hingga ketinggian 100 meter dari puncak menara”, tutur Jon Arifian menjelaskan kepada tim redaksi WXMOD. “Dengan adanya gaya dorong ke atas kita harapkan GBG tipe ini akan lebih ideal dibandingkan generasi GBG sebelumnya yang hanya memanfaatkan daya dorong angin secara alami. Selain itu berdasarkan refensi journal ilmiah bahan semai dengan ukuran 2-5 mikrometer ini memiliki efektifitas yang lebih baik dalam mempengaruhi proses dinamika di dalam awan” lanjutnya.

 

“Berdasarkan hasil simulasi awal yang dilakukan selama periode Triwulan I 2021, bahan semai serbuk NaCl 2-5 mikron ini mampu dihantarkan oleh peralatan nozzle jet ejector hingga ketinggian mendekati target 100 meter dari mulut ejector. Tingkat kebisingan yang ditimbulkan juga dapat ditekan sehingga tidak signifikan mengganggu” Jon Arifian menjelaskan lebih detail kemajuan yang telah dicapai saat ini. Target hasil kegiatan pengembangan GBG pada tahun 2021 ini adalah diperolehnya desain maupun purwarupa GBG penghantar bahan semai NaCl Powder 2-5 mikrometer.

Metode Penyemaian Awan Dari Darat

Ground Based Generator (GBG)

 

Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) adalah salah satu bentuk upaya manusia untuk memodifikasi cuaca dengan tujuan tertentu agar mendapatkan kondisi cuaca seperti yang diinginkan. Disebut sebagai suatu teknologi karena memang aktivitas modifikasi cuaca pada dasarnya merupakan suatu aplikasi yang memerlukan sentuhan teknologi dalam prosesnya. Hasil akhir dari upaya modifikasi cuaca tersebut umumnya adalah untuk meningkatkan intensitas curah hujan di suatu tempat (rain enhancement), meski untuk tujuan tertentu dapat juga dikondisikan sebaliknya, yaitu untuk menurunkan intensitas curah hujan di suatu lokasi tertentu (rain reduction). Dalam konteks pemanasan global (global warming) yang mengakibatkan terjadinya perubahan iklim (climate change), TMC telah menjadi salah satu solusi yang bisa diandalkan untuk mereduksi kerugian yang dapat ditimbulkan oleh bencana yang disebabkan oleh faktor iklim dan cuaca.

Selama ini yang dikenal masyarakat teknologi TMC menggunakan pesawat yang menghantarkan bahan semai berupa NaCl ke dalam awan melalui udara. Padahal terdapat metode lain untuk menghantarkan bahan semai itu ke dalam awan, dalam beberapa tahun terakhir telah dikembangkan metode penyampaian bahan semai ke dalam awan dari darat, diantaranya dengan menggunakan wahana Ground Based Generator (GBG) dan wahana Pohon Flare untuk sistem statis. Kedua metode ini mempunyai prinsip kerja yang sama dalam menghantarkan bahan semai ke dalam awan, yaitu dengan memanfaatkan keberadaan awan - awan orografik dan awan yang tumbuh di sekitar pegunungan sebagai targetnya. Oleh karena itu, Metode GBG dan Pohon Flare idealnya digunakan untuk wilayah - wilayah yang mempunyai topografi pegunungan.