Instagram  : @BBTMC_BPPT     Twitter : @BBTMC_BPPT

Berita Internal

Berita Internal

Berita Internal UPT Hujan Buatan

Penerimaan PILOT Piper Cheyenne II PA31T milik BPPT

PENGUMUMAN

PENERIMAAN 1 (Satu) PILOT Piper Cheyenne II PA31T

 

 

OC91 Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (OC91 BBTMC BPPT) membutuhkan 1 (satu) orang Pilot Fixed Wing Aircraft Piper Cheyenne II PA31T untuk operasi penerbangan Teknologi Modifikasi Cuaca (Cloud Seeding), dengan kualifikasi sebagai berikut:

 Persyaratan

  • Pemegang Indonesian CPL atau ATPL.
  • Flight hours 3500 hours, diutamakan yang sudah mempunyai rating Piper Cheyenne II PA31T dan masih berlaku dengan jam terbang PIC 500 hours atau memiliki PIC Multi Engine Aircraft dengan jam terbang minimal atau lebih dari 500jam terbang.
  • Umur maximum 45 thn.
  • Medical Examination (First Class) dari Balai Kesehatan Penerbangan masih berlaku.

 Surat Lamaran dan Daftar Riwayat Hidup beserta dokumen pendukung disertai dengan jumlah Gaji yang diharapkan dalam bentuk pdf.file dikirimkan ke email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.. Surat lamaran ditunggu paling lambat tanggal 8 September 2020.

 

Calon yang memenuhi kriteria yang akan dipanggil untuk mengikuti proses seleksi lebih lanjut.

 

Puspiptek Serpong, 1 September 2020

 

Ttd

 

BBTMC BPPT

Penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca Untuk Antisipasi Bencana Asap Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Sumsel dan Jambi, Agustus 2020

Secara historis, bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia terjadi hampir setiap tahunnya mulai periode transisi akhir musim hujan menuju kemarau, kemudian mengalami puncaknya pada pertengahan musim kemarau, dan berakhir pada awal musim hujan berikutnya. Sejak pertengahan Maret 2020 sudah mulai muncul sejumlah hotspot di wilayah Pulau Sumatera dan sebagian Pulau Kalimantan. Kondisi tersebut perlu diantisipasi oleh berbagai pihak agar pada puncak musim kemarau 2020 (Agustus-September) tidak terjadi bencana kebakaran hutan dan lahan secara masif yang dapat mengganggu berbagai aspek kehidupan masyarakat. Upaya preventif ini menjadi penting ditengah pandemi Covid-19 yang terus meningkat walaupun sejak memasuki bulan Agustus beberapa model prediksi iklim mengindikasikan dalam kondisi Netral yang diperkirakan hingga memasuki periode bulan Desember 2020.


Memasuki bulan Mei hingga awal Agustus kondisi hotspot di beberapa provinsi di pulau Sumatera semakin meningkat dengan total sekitar 57 titik, dan 209 titik di pulau Kalimantan disertai kondisi atmosfer yang menuju transisi musim kemarau, maka pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memprakarsai untuk diterapkannya operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di wilayah Pulau Sumatera dan Kalimantan. Hal ini direspon baik oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana dengan bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk segera memulai penerapan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di wilayah Pulau Sumatera, khususnya wilayah Provinsi Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Untuk kegiatan operasi TMC di wilayah pulau Sumatera telah dimulai sejak tanggal 14 Mei 2020 di provinsi Riau dan tanggal 2 Juni 2020 di provinsi Sumatera Selatan. TMC merupakan suatu upaya intervensi manusia pada sistem awan untuk mengkondisikan cuaca agar berperilaku lebih mengarah sesuai dengan yang dibutuhkan, umumnya adalah untuk meningkatkan intensitas curah hujan atau mempercepat proses hujan. TMC dilakukan dengan meniru proses alamiah yang terjadi di dalam awan. Sejumlah partikel higroskopik yang dibawa dengan pesawat ditambahkan langsung ke dalam awan jenis Cumulus (awan hujan) agar proses pengumpulan tetes air di dalam awan segera dimulai. Dengan berlangsungnya pembesaran tetes secara lebih efektif maka proses hujan menjadi lebih cepat dan menghasilkan curah hujan yang lebih banyak.


Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 03 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan, mengamanatkan Kepala BPPT untuk melaksanakan operasi TMC dan pengembangan teknologi pembukaan lahan tanpa bakar untuk mendukung penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.
Pelaksanaan operasi TMC siaga darurat bencana kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera dimulai kembali tanggal 22 Juli di Provinsi Riau dan di Provinsi Sumsel dan Jambi dijadwalkan akan dimulai hari Rabu tanggal 12 Agustus 2020 dengan didukung oleh 1 unit pesawat CN-295 TNI-AU dengan Posko di Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang. Bahan semai yang digunakan adalah garam (NaCl) berbentuk powder dengan ukuran butir yang sangat halus (orde mikron). Untuk membantu pengamatan cuaca dan kondisi awan di wilayah target, BPPT akan bekerjasama dengan BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) dengan memanfaatkan data radar cuaca Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II,Palembang dan Stasiun Meteorologi Sutan Thaha, Jambi.

PENERIMAAN PILOT CASA 212-200

Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBTMC BPPT) membutuhkan Pilot Fixed Wing Aircraft Casa 212-200 untuk operasi penerbangan Teknologi Modifikasi Cuaca (Cloud Seeding), dengan kualifikasi sebagai berikut:

 

Persyaratan

  • Pemegang Indonesian ATPL
  • Flight hours 3500 hours, diutamakan yang sudah mempunyai rating Casa 212-200 dan masih berlaku dengan jam terbang PIC 1500 hours.
  • Umur maximum 45 thn.
  • Medical Examination (First Class) dari Balai Kesehatan Penerbangan masih berlaku.

Bagi Kandidate yang memenuhi kriteria di atas, dapat mengirmkan Surat Lamaran dan Daftar Riwayat Hidup beserta dokumen pendukung disertai dengan jumlah Gaji yang diharapkan dalam bentuk pdf.file dikirimkan ke email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it..

 

Surat lamaran ditunggu paling lambat tanggal 14 Juli 2020. Kandidate yang memenuhi kriteria yang akan dipanggil untuk mengikuti proses seleksi lebih lanjut.

TIM TMC KEMBALI TERJUN DI WILAYAH RIAU

Riau, 27 Juli 2020 :  Tim TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca) kembali membasahi   wilayah Riau sekitarnya.  Operasi TMC yang ketiga kalinya untuk tahun ini dimulai sejak 24 Juli lalu dan hingga saat ini mampu menghasilkan 2,2 juta meter kubik air. “Ini operasi TMC ketiga untuk pencegahan Karhutla di Riau. Dilaksanakan bertahap  sejak awal tahun. Strategi pencegahan karhutla seperti ini sangat efektif sehingga tidak perlu menunggu terjadi kebakaran yang meluas dan terburu-buru harus dipadamkan dalam tempo singkat,” ujar Tri Handoko Seto, Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBMTC-BPPT) di Jakarta, Senin (27/7/2020) disela pendidikan Lemhanas. Menurut Tri Handoko Seto, berdasarkan historis fluktuatif jumlah titik hotspot di wilayah Riau cenderung meningkat pada Maret dan periode puncak pada Agustus hingga September.  “Jadi bulan Juli tepat dilaksanakan operasi kembali,” ujarnya.

 

 

Jon Arifian, Plh Kepala BBTMC mengatakan, timnya telah memperoleh data ketinggian air tanah di lahan gambut. “Berdasarkan instumentasi pemantauan  Badan Restorasi Gambut lebih dari 70 persen menunjukkan nilai rawan atau bahaya. Kondisi ini sudah terjadi sejak awal bulan Juli. Untuk itu perlu dilaksanakan upaya pembasahan kembali, salah satunya dengan teknologi modifikasi cuaca, agar ketinggian air tanah di lahan gambut dapat naik kembali. “ paparnya. Hal sama diungkapkan Sutrisno, Kepala Bidang Pelayanan Teknologi BBTMC. “Operasi TMC Riau diaktifkan kembali atas arahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana selaku pemegang pendanaan kegiatan ini,” tuturnya. Penerbangan pertama operasi pencegahan Karhutla di Riau dimulai pada Jum’at 24 Juli lalu diperkuat pesawat CASA 212 no registrasi A-2107 milik TNI-AU.  Posko TMC dipusatkan di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru Riau dengan tim yang terdiri dari flight scientist BBTMC dan tim TNI AU. “Setiap hari terjadi hujan dan hingga kemarin total volume hujan capai 2,2 juta meter kubik,” ujar Halda Aditya Belgaman, koordinator Lapangan TMC-BBTMC Posko Riau.

 Seperti diketahui, BBTMC- BPPT mulai terjunkan tim untuk melaksanakan siaga darurat karhutla di Riau melalui operasi  TMC sejak pertengahan Maret lalu .  Operasi TMC kedua dilaksanakan pada pertengahan Mei 2020.  (BBTMC)

PENERIMAAN PILOT CASA 212-200

Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBTMC BPPT) membutuhkan Pilot Fixed Wing Aircraft Casa 212-200 untuk operasi penerbangan Teknologi Modifikasi Cuaca (Cloud Seeding), dengan kualifikasi sebagai berikut:

 

Persyaratan

  • Pemegang Indonesian ATPL
  • Flight hours 3500 hours, diutamakan yang sudah mempunyai rating Casa 212-200 dan masih berlaku dengan jam terbang PIC 1500 hours.
  • Umur maximum 45 thn.
  • Medical Examination (First Class) dari Balai Kesehatan Penerbangan masih berlaku.

Bagi Kandidate yang memenuhi kriteria di atas, dapat mengirmkan Surat Lamaran dan Daftar Riwayat Hidup beserta dokumen pendukung disertai dengan jumlah Gaji yang diharapkan dalam bentuk pdf.file dikirimkan ke email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it..

 

Surat lamaran ditunggu paling lambat tanggal 14 Juli 2020. Kandidate yang memenuhi kriteria yang akan dipanggil untuk mengikuti proses seleksi lebih lanjut.

Statistik Pengunjung

1.png9.png2.png7.png4.png5.png
Today23
Yesterday163
This week769
This month2879
Total192745

Kontak Kami

Gedung Ir. Mohammad Soebagio
Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) - BPPT, GEOSTECH
Kawasan PUSPIPTEK Serpong - Tangerang Selatan 15314
Telp. (021) 75791377 ext 4175 ; Faks. (021) 75791409
e-mail:
ka-bbtmc@bppt.go.id  ;   sekr-bbtmc@bppt.go.id