Instagram  : @BBTMC_BPPT     Twitter : @BBTMC_BPPT

Penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca Untuk Antisipasi Bencana Asap Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Sumsel dan Jambi, Agustus 2020

Secara historis, bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia terjadi hampir setiap tahunnya mulai periode transisi akhir musim hujan menuju kemarau, kemudian mengalami puncaknya pada pertengahan musim kemarau, dan berakhir pada awal musim hujan berikutnya. Sejak pertengahan Maret 2020 sudah mulai muncul sejumlah hotspot di wilayah Pulau Sumatera dan sebagian Pulau Kalimantan. Kondisi tersebut perlu diantisipasi oleh berbagai pihak agar pada puncak musim kemarau 2020 (Agustus-September) tidak terjadi bencana kebakaran hutan dan lahan secara masif yang dapat mengganggu berbagai aspek kehidupan masyarakat. Upaya preventif ini menjadi penting ditengah pandemi Covid-19 yang terus meningkat walaupun sejak memasuki bulan Agustus beberapa model prediksi iklim mengindikasikan dalam kondisi Netral yang diperkirakan hingga memasuki periode bulan Desember 2020.


Memasuki bulan Mei hingga awal Agustus kondisi hotspot di beberapa provinsi di pulau Sumatera semakin meningkat dengan total sekitar 57 titik, dan 209 titik di pulau Kalimantan disertai kondisi atmosfer yang menuju transisi musim kemarau, maka pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memprakarsai untuk diterapkannya operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di wilayah Pulau Sumatera dan Kalimantan. Hal ini direspon baik oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana dengan bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk segera memulai penerapan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di wilayah Pulau Sumatera, khususnya wilayah Provinsi Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Untuk kegiatan operasi TMC di wilayah pulau Sumatera telah dimulai sejak tanggal 14 Mei 2020 di provinsi Riau dan tanggal 2 Juni 2020 di provinsi Sumatera Selatan. TMC merupakan suatu upaya intervensi manusia pada sistem awan untuk mengkondisikan cuaca agar berperilaku lebih mengarah sesuai dengan yang dibutuhkan, umumnya adalah untuk meningkatkan intensitas curah hujan atau mempercepat proses hujan. TMC dilakukan dengan meniru proses alamiah yang terjadi di dalam awan. Sejumlah partikel higroskopik yang dibawa dengan pesawat ditambahkan langsung ke dalam awan jenis Cumulus (awan hujan) agar proses pengumpulan tetes air di dalam awan segera dimulai. Dengan berlangsungnya pembesaran tetes secara lebih efektif maka proses hujan menjadi lebih cepat dan menghasilkan curah hujan yang lebih banyak.


Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 03 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan, mengamanatkan Kepala BPPT untuk melaksanakan operasi TMC dan pengembangan teknologi pembukaan lahan tanpa bakar untuk mendukung penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.
Pelaksanaan operasi TMC siaga darurat bencana kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera dimulai kembali tanggal 22 Juli di Provinsi Riau dan di Provinsi Sumsel dan Jambi dijadwalkan akan dimulai hari Rabu tanggal 12 Agustus 2020 dengan didukung oleh 1 unit pesawat CN-295 TNI-AU dengan Posko di Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang. Bahan semai yang digunakan adalah garam (NaCl) berbentuk powder dengan ukuran butir yang sangat halus (orde mikron). Untuk membantu pengamatan cuaca dan kondisi awan di wilayah target, BPPT akan bekerjasama dengan BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) dengan memanfaatkan data radar cuaca Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II,Palembang dan Stasiun Meteorologi Sutan Thaha, Jambi.

Statistik Pengunjung

1.png9.png2.png7.png3.png5.png
Today13
Yesterday163
This week759
This month2869
Total192735

Kontak Kami

Gedung Ir. Mohammad Soebagio
Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) - BPPT, GEOSTECH
Kawasan PUSPIPTEK Serpong - Tangerang Selatan 15314
Telp. (021) 75791377 ext 4175 ; Faks. (021) 75791409
e-mail:
ka-bbtmc@bppt.go.id  ;   sekr-bbtmc@bppt.go.id