Telp : 75791381 ext 4175, Fax : 75791428 Email: sekr-bbtmc@bppt.go.id

Archieve Presipitasi

Presitipasi dari Data TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission)

Data TRMM adalah data precipitasi (hujan) yang didapat dari satelit meteorologi TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) dengan sensornya PR (Precipitation Radar), TMI (TRMM Microwave Imager), dan VIRS (Visible and Infrared Scanner), CERES (Clouds and the Earth’s Radiant Energy System), dan LIS (Lightning Imaging Sensor). Ada beberapa satelit meteorologi selain satelit TRMM, yaitu : Satelit DMSP (Defense Meteorological Satellite Program) dengan sensor SSM/I (Special Sensor Microwave Imager). Satelit Aqua dengan sensor AMSR-E (Advanced Microwave Scanning Radiometer-Earth Observing System). dan satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) dengan sensor AMSU-B (Advanced Microwave Sounding Unit-B).

Karakteristik umum sensor-sensor satelit TRMM dapat diungkapkan sebagai berikut. Pertama, sensor VIRS (Visible Infrared Scanner) terdiri dari 5 kanal, masing-masing pada panjang gelombang 0,63; 1,6; 3,75, 10,8 dan 12 μm. Sensor VIRS ini terutama digunakan untuk pemantauan liputan awan, jenis awan dan temperatur puncak awan, dan sensor VIRS TRMM ini memiliki kemiripan dengan sensor AVHRR NOAA (Advance Very High Resolution Radiometer, National Oceanic and Atmospheric Administration). Resolusi spasial dari data yang dihasilkan oleh sensor VIRS ini adalah 2,2 km. Ke-dua, sensor TMI (TRMM Microwave Imager) merupakan suatu multichannel passive microwave radiometer yang beroperasi pada 5 frekuensi yaitu 10,65; 19,35; 37,0; dan 85,5 GHz polarisasi ganda dan pada 22,235 GHz polarisasi tunggal. Dari sensor TMI ini dapat diekstraksi data-data untuk integrated column precipitation content, air cair dalam awan (cloud liquid water), es awan (cloud ice), intensitas hujan (rain intensity), tipe hujan (rain type) misalnya hujan stratiform ataukah hujan konvektif. Sensor TMI ini memiliki kemiripan dengan sensor SSM/I DMSP (Special Sensor Microwave / Imager, Defense Meteorological Satellite Program). Sensor ke tiga adalah sensor PR (Precipitation Radar). Sensor PR ini merupakan sensor radar untuk pemantauan presipitasi yang pertama di antariksa. Sensor PR ini bekerja pada frekuensi 13,8 GHz untuk mengukur distribusi presipitasi secara 3 dimensi, baik untuk presipitasi di atas daratan maupun di atas lautan; serta untuk menentukan kedalaman lapisan presipitasi. Data-data yang dihasilkan dari ke-tiga sensor satelit TRMM ini (VIRS, TMI dan PR) dikelola oleh GSFC (Goddard Space Flight Center) NASA. Sedangkan sensor ke-empat dan ke-lima dalam satelit TRMM yaitu sensor LIS (Lightning Imaging Sensor) dan CERES (Clouds and Earth’s Radiant Energy System), pengelolaan data-data yang dihasilkan dari sensor-sensor tersebut tidak dilakukan oleh Goddard Space Flight Center DAAC (Distributed Active Archive Center).

Instrumentasi Satelit TRMM (sumber : http://trmm.gsfc.nasa.gov/overview_dir/background.html)

Satelit TRMM tersebut merupakan hasil kerjasama dua badan antariksa nasional, yaitu Amerika Serikat (NASA : National Aeronautics and Space Administration) dan Jepang (NASDA : National Space Development of Japan; sekarang berubah menjadi JAXA : (Japan Aerospace Exploration Agency). Satelit TRMM diluncurkan pada tanggal 27 November 1997 pada jam 6:27 pagi waktu Jepang dan dibawa oleh roket H-II di pusat stasiun peluncuran roket milik JAXA di Tanegashima-Jepang, berorbit polar (non-sunsynchronous) dengan inklinasi sebesar 35 º terhadap ekuator, berada pada ketinggian orbit 350 km (pada saat-saat awal diluncurkan), dan diubah ketinggian orbitnya menjadi 403 km sejak 24 Agustus 2001 sampai sekarang. Pengoperasian satelit TRMM pada ketinggian orbit 403 km ini dikenal dengan istilah TRMM boost.

Orbit Satelit TRMM

Coverage area dari satelit TRMM

Data hujan yang dihasilkan oleh TRMM memiliki tipe dan bentuk yang cukup beragam yang dumulai dari level 1 sampai level 3. Level 1 merupakan data yang masih dalam bentuk raw dan telah dikalibrasi dan dikoreksi geometrik, Level 2 merupakan data yang telah memiliki gambaran paramater geofisik hujan pada resolusi spasial yang sama akan tetapi masih dalam kondisi asli keadaan hujan saat satelit tersebut melewati daerah yang direkam, sedangkan level 3 merupakan data yang telah memiliki nilai-nilai hujan, khususnya kondisi hujan bulanan yang merupakan penggabungan dari kondisi hujan dari level 2 (Feidas 2010). Untuk mendapatkan data hujan dalam bentuk mili meter (mm) sebaiknya menggunakan level 3., dengan resolusi spasial 0,25° x 0,25°.  Dan resolusi temporal setiap 3 jam sekali. Gambar di bawah merupakan diagram alir algoritma TRMM untuk mendapatkan level dan tipe data tertentu, termasuk input data dan outputnya.

Diagram alir algoritma TRMM (NASDA, 2001)

Pada hasil akhirnya nanti, beberapa data dari hasil analisis beberapa satelit meteorologi digabungkan / dikombinasikan untuk memproduski data hujan (presipitasi) yang disebut dengan produk TRMM Multisatellite Precipitation Analysis (TMPA) yang memiliki tingkat keakurasian data lebih baik dari data-data aslinya.

Hasil prosesing data TRMM untuk beberapa wilayah di Indonesia secara updated dapat di klik di sini :

(Posted by : DJZ)

Statistik Pengunjung

2.png0.png5.png2.png2.png
Today4
Yesterday173
This week177
This month2472
Total20522

Kontak Kami

Gedung Ir. Mohammad Soebagio
Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) - BPPT, GEOSTECH
Kawasan PUSPIPTEK Serpong - Tangerang Selatan 15314
Telp. (021) 75791381 ext 4175 ; Faks. (021) 75791428
e-mail:
ka-bbtmc@bppt.go.id
sekr-bbtmc@bppt.go.id