Telp : 75791381 ext 4175, Fax : 75791428 Email: sekr-bbtmc@bppt.go.id

Berita External

Berita-berita tentang kegiatan UPT Hujan Buatan

PENERAPAN TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA DI DAS RIAM KANAN WADUK PLTA IR PM NOOR, KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2016

 

Adanya kejadian El Nino secara umum akan mengurangi intensitas curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia termasuk di Daerah Aliran Sungai (DAS) Waduk PLTA Ir. PM Noor, oleh karena itu dari pertengahan bulan juni 2015 hingga bulan April 2016 ini rata-rata inflow PLTA Ir. PM Noor lebih kecil dari nilai rata-rata historisnya. Sedangkan berdasarkan data historis hidrologi Waduk PLTA Ir. PM Noor, kondisi inflow akan terus menurun dari bulan April. Berkurangnya curah hujan dan pasokan air yang telah terjadi di Daerah Aliran Sungai Waduk PLTA Ir. PM Noor untuk saat ini perlu diantisipasi agar tidak banyak berpengaruh pada pola operasi PLTA Ir. PM Noor untuk beberapa bulan kedepan.

Guna mengantisipasi datangnya musim kemarau dan untuk meningkatkan pasokan dansimpanan air di Waduk PLTA Ir. PM Noor, PT. PLN (Persero) Wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (WKSKT) Sektor Barito bekerja sama dengan Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melaksanakan  operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau yang lebih dikenal awam dengan istilah hujan buatan di wilayah DAS Waduk Riam Kanan yang menjadi daerah tangkapan air (catchment area) Waduk PLTA Ir. PM Noor. Pelaksanaan TMC sehari-harinya nanti akan dipusatkan di Posko TMC di Bandara Syamsudin Noor yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Waduk PLTA Ir. PM Noor.

Dalam melaksanakan pekerjaan TMC untuk pengisian Waduk PLTA Ir. PM Noor ini BPPT didukung oleh 1 unit Pesawat CASA 212-200 dengan nomor registrasi PK-PCT milik PT Pelita Air Service, radar cuaca milik BMKG Wilayah Kalimantan Selatan, serta sarana dan prasarana pendukung di Posko milik PT Angkasa Pura dan Lanud Syamsudin Noor. Selain itu, untuk membantu pengamatan cuaca di sekitar daerah target juga ditempatkan 2 Pos Meteorologi yang berlokasi di daerah Rantau Bujur dan Bajuin. Hujan yang terjadi di daerah target akan dipantau dan dievaluasi dari 6 lokasi Pos Penakar Curah Hujan yang tersebar di wilayah DAS Riam Kanan. Pelaksanaan TMC untuk pengisian Waduk PLTA Ir. PM Noor resmi dimulai pada  Senin, 18 April 2016 dan rencananya akan berlangsung selama 29 hari kegiatan.

Secara klimatologis, kegiatan TMC di DAS Riam Kanan Waduk PLTA Ir. PM Noor yang dilakukan pada saat transisi musim penghujan kali ini cukup tepat dari segi waktu pelaksanaannya dan berpeluang dapat memberikan hasil yang optimal untuk dapat mengantisipasi penurunan pasokan air waduk karena datangnya musim kemarau. Pada prinsipnya, modifikasi cuaca yang dilakukan dengan cara penyemaian awan (cloud seeding) adalah bertujuan untuk mempercepat proses terjadinya hujan sekaligus menambah intensitas hujan dengan cara memperpanjang durasi hujan. Dengan demikian, maka dengan adanya TMC diharapkan curah hujan yang sudah berpeluang terbentuk secara alami dapat dikondisikan agar jatuhnya tepat di dalam catchment area Waduk PLTA Ir. PM Noor dan dengan durasi yang lebih panjang sehingga secara keseluruhan akan memberikan penambahan curah hujan (rain enhancement) di daerah target. (IBN/ARD)

 

UPT Hujan Buatan BPPT Terus Lakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk Penanggulangan Bencana Asap Kebakaran Hutan dan Lahan di Sumatera dan Kalimantan

Kebakaran hutan dan lahan terjadi (hampir) setiap tahun. Tahun ini, ketika terjadi El Nino kuat yang mirip tahun 1997/98, menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan sampai saat ini  seluas 1,7 juta hektar hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan telah terbakar. Kerugian ekonomi yang diakibatkan telah mencapai puluhan trilyun rupiah. Selain itu, lebih dari 1 Milyar ton karbon dilepaskan ke atmosfer, diperkirakan melebihi emisi karbon di Amerika yang merupakan negara dengan emisi karbon terbesar kedua setelah Tiongkok.

Para ahli internasional meyakini bahwa kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia saat ini tidak bisa ditanggulangi dengan cara apapun kecuali hujan. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai satu-satunya pemilik Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau yang dikenal hujan buatan di Indonesia telah, sedang, dan akan terus melakukan upaya besar untuk menerapkan teknologi hujan buatan. TMC telah dilakukan di seluruh provinsi rawan bencana asap kebakaran hutan dan lahan di Sumatera (Riau mulai 22 Juni, Sumsel mulai 8 Juli, dan Jambi mulai 13 September) dan Kalimantan (Kalbar mulai 11 Agustus, Kalteng dan Kalsel mulai 15 Oktober) dengan mengerahkan 4 unit pesawat yang terdiri dari 3 unit pesawat Casa 212-200 dan 1 unit CN-295. Keempat pesawat itu dioperasikan dengan Pusat Komando Operasi di Palembang, Pekanbaru, Pontianak, dan Banjarmasin. Mulai hari ini, kekuatan armada ditambah dengan 1 unit pesawat Hercules C-130 dengan daya jelajah lebih dari 8 jam dan bahan semai 4 ton dalam sekali penerbangan.

Dalam menerapkan TMC  untuk penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, BPPT bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selaku penyadang dana, Markas Besar Tentara Nasional Indonesia selaku pemilik pesawat, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) selaku otoritas yang menangani bidang cuaca, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Para Pemerintahan Daerah, dll. Namun demikian, BPPT juga melakukan kegiatan TMC secara mandiri di beberapa wilayah di Indonesia untuk kebutuhan pengisian air waduk dan danau Pembangkit Listrik Tenaga Air seperti di beberapa cabang PT. PLN (Persero), Perum Jasa Tirta 1, Perum Jasa Tirta II, PT. Vale Indonesia, dll.

Pertanyaan yang sering muncul adalah: “Apakah TMC atau hujan buatan efektif untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan?” Jawabannya bisa dijelaskan di bawah ini:

  1. Sebagaimana telah disebutkan bahwa pada kebakaran hutan dan lahan apalagi jika eskalasinya sangat hebat seperti tahun 2015 ini, tidak ada teknologi apapun yang mampu memadamkan kecuali hujan. Oleh karena itu, teknologi hujan buatan harus diaplikasikan.
  2. Dalam kondisi asap pekat seperti saat ini, asap bukan hanya berbahaya bagi manusia. Asap pekat juga jahat terhadap proses terjadinya hujan dalam 2 (dua) hal:
    1. Asap pekat menghalangi radiasi masuk ke permukaan bumi. Akibatnya suhu permukaan bumi tidak cukup hangat untuk membuat labil profil vertical temperature udara. Padahal profil vertical temperature udara yang labil inilah yang menjadi media bagi terbentuknya awan akibat aktifitas konveksi atau pengangkatan masa udara agar terjadi kondensasi. Akhirnya, awan menjadi sulit terbentuk dan tentu saja hujan tidak terjadi.
    2. Ketika ada awan di suatu wilayah yang asapnya pekat (umumnya awan di sini berasal dari daerah lain yang terbawa angin (dalam istilah meteorologi disebut adveksi), maka asap pekat akan berebut uap air dan butiran awan sehingga awan akan selalu berada dalam fase mula. Awan dalam fase mula ditandai dengan butir-butir awan berukuran kecil. Akibatnya, proses hujan akan sangat sulit terjadi. Sebagai informasi, asap pekat kebakaran hutan dan lahan didominasi oleh partikel sangat kecil berukuran kurang dari 2 mikron sebanyak sekitar 2000 butir/cm3.
  3. TMC atau hujan buatan akan berperan penting dalam meningkatkan efisiensi proses hujan karena mampu mengubah awan yang berada pada fase mula memasuki fase dewasa hingga matang. TMC dilakukan dengan menaburkan bahan semai higroskopis berukuran besar (UGN: ultra giant nuclei, 10-50 mikron). Hadirnya bahan semai ini akan meningkatkan efisiensi tumbukan dan penggabungan (collision and coalescence), yang merupakan kunci terjadinya proses hujan pada awan hangat yang sering tumbuh di daerah tropis. Sebagai informasi, awan pada fase mula memiliki efisiensi tumbukan dan pengabungan di bawah 10%. Sementara itu, penyemaian awan mampu meningkatkan efisiensi menjadi sekitar 80%.  

Sejak dilakukan TMC, sebanyak 83,72 Milyar m3 air hujan berhasil diturunkan (Riau 26,3 Milyar m3, Sumsel 10,1 Milyar m3, Kalbar 39,3 Milyar m3, Kalsel 520 juta m3, dan Kalteng 7,5 Milyar m3). Namun demikian karena keberadaan awan sebagian besar berada di luar pusat-pusat kebakaran maka hujan tersebut lebih bermanfaat untuk mencegah kebakaran semakin menyebar. Meskipun demikian, sebagian lainnya tepat di daerah hotspot sehingga berhasil memadamkan hotspot. Sejak seminggu terakhir keberadaan awan sudah semakin banyak, sehingga upaya hujan buatan semakin diintensifkan. Selama seminggu terakhir, telah berhasil dijatuhkan hujan sebesar 21,3 Milyar m3 (Riau 2,7 Milyar m3, Sumsel 854,7 Juta m3, Kalbar 10,1 Milyar m3, Kalsel 511 juta m3, dan Kalteng 7,4 Milyar m3). Memang tidak semua hujan yang jatuh ke permukaan bumi adalah hasil TMC. Tetapi TMC berperan besar pada terjadinya hujan, sehingga asap akan bersih dan proses konveksi berjalan normal kembali.

Teknologi Modifikasi Cuaca atau hujan buatan telah dikaji dan diterapkan oleh BPPT sejak tahun 1979. Keahlian dari berbagai disiplin ilmu diperlukan untuk meramu teknologi ini agar bekerja dengan efektif dan efisien seperti ilmu meteorologi dengan spesifikasi fisika dan kimia atmosfer bahkan fisika awan untuk memastikan secara prinsip bahwa awan dengan karakter (ukuran, kepadatan, dll) tertentu bisa ditingkatkan efisiensi proses hujannya dengan bahan semai tertentu. Diperlukan ilmu kimia bahan dan fisika material untuk menemukan bahan semai yang sesuai. Kesalahan karakteristik bahan semai bisa berakibat fatal. Kesalahan dosis begitu juga. Untuk melakukan monitoring parameter-parameter atmosfer seperti awan, hujan, kelembaban, temperatur, tekanan udara, aerosol, dll diperlukan berbagai peralatan dan teknik-teknik pengukuran tertentu sehingga diperlukan berbagai disiplin ilmu seperti teknik instrumentasi dan elektronika, ilmu komputer, teknik mesin, hidrologi, GIS, dll. BPPT sebagai lembaga teknologi di Indonesia akan terus mengembangkan teknologi modifikasi cuaca agar semakin efektif dan efisien dalam menunjang pembangunan nasional khususnya dalam pengelolaan sumberdaya air pertanian serta perannya dalam pengurangan resiko bencana yang disebabkan oleh iklim dan cuaca. Untuk lebih dapat meningkatkan peran TMC ini maka perlu dilakukan penambahan armada pesawat maupun peralatan pendukung lainnya.

(TIM UPTHB)

UPT Hujan Buatan BPPT Kembali Buka Posko untuk Teknologi Modifikasi Cuaca di Pontianak Guna Mencegah Terjadinya Kebakaran Lahan dan Hutan Di Propinsi Kalimantan Barat

Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (UPTHB-BPPT) bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali membuka posko untuk pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di Pontianak guna mencegah terjadinya kebakaran lahan dan hutan di Propinsi Kalimantan Barat.

Sebelumnya, pada periode Maret – April 2015 dan dekade III bulan Juni 2015 hingga saat ini di wilayah Provinsi Riau, dan tanggal 9 Juli 2015 hingga saat ini di Provinsi Sumatera Selatan, UPT Hujan Buatan, BPPT bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga telah dan sedang melaksanakan operasi TMC untuk tujuan yang sama yaitu untuk mengantisipasi dampak bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang diperkirakan akan terjadi di Provinsi Riau dan Sumatera Selatan

Sekretaris Utama (Sestama) BPPT  Soni Solistia wirawan dalam sambutanya pada Pembukaan Pemanfaatan Teknologi Modifikasi Cuaca di Lanud Supadio Pontinak mengatakan berkurangnya curah hujan di Propinsi Kalimntan Barat ini akan berdampak terhadap meningkatnya jumlah hotspot. Dan berdasar pengalaman tahun lalu di Propinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah dimana pada bulan Agustus hingga Oktober terjadi kebakaran lahan dan hutan yang cukup parah sampai menyebabkan tergangunya operasional bandara di kedua propinsi tersebut. BPPT melalui UPT Hujan Buatan siap melakukan TMC guna untuk pembasahan lahan-lahan gambut dan pengisian embung-embung penampungan air untuk mencegah atau meminimalisir jumlah hotspot/kebakaran hutan dan lahan yang saat ini sudah mulai ada kecenderungan meningkat. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya kebaakaran hutan dan lahan yang tidak terkendali seperti tahun kemarin.

Sementara itu, Kepala UPT Hujan Buatan mengatakan  dalam TMC di Pontianak ini akan menggunakan pesawat CASA 212-200 milik TNI AU yang mampu membawa bahan semai sebanyak 1 ton. Saat ini potensi awan hujan di Propinsi Kalimantan Barat ini masih ada dan akan kami optimalkan untuk bisa menghasilkan hujan dan membasahi lahan gambut dan memadamkan hotspot. Sehingga diharapkan bisa menekan munculnya titik api baru di sini.

Di akhir acara, Kepala BPBD Propinsi Kalimantan Barat Drs. T.T.A. Nyarong, M.Si, mengatakan bahwa untuk mengatasi kebakaran lahan dan hutan itu menjadi tanggung jawab setiap instansi baik di daerah maupun pusat serta masyarakat sekitar untuk selalu menjaga wilayahnya dari bencana tersebut.

(IBN/ARD-UPTHB)

UPT Hujan Buatan BPPT Lakukan Teknologi Modifikasi Cuaca Guna Isi Waduk Kota Panjang dan Danau Singkarak

Kondisi Elnino yang diprediksi akan terjadi hingga akhir tahun 2015 akan sangat mempengaruhi ketersediaan air di Indonesia, termasuk ketersediaan air di Waduk Kota Panjang dan Danau Singkarak selama musim kemarau ini. Berkurangnya curah hujan yang telah terjadi di Daerah Aliran Sungai (DAS) PLTA Waduk Kota Panjang dan Danau Singkarak sejak Juli 2015 hingga saat ini perlu diantisipasi agar tidak banyak berpengaruh pada pola operasi PLTA Waduk Kota Panjang dan PLTA Danau Singkarak pada beberapa bulan kedepan.

Guna mengantisipasi hal tersebut, maka  PT. PLN (Persero) Pembangkitan Wilayah Sumatera Bagian Utara Sektor Pekanbaru bekerjasama dengan UPT Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melaksanakan operasi pemanfaatan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau yang lebih dikenal awam dengan istilah hujan buatan di wilayah DAS PLTA Waduk Kota Panjang dan DAS PLTA Danau Singkarak.

Sekretaris Utama BPPT, Soni Solistia Wirawan dalam sambutannya mengatakan data curah hujan selama tahun 2015 di DAS PLTA itu pada Januari-Februari dibawah normal dan Maret-Juni 2015 dalam kondisi normal. Namun, pada Juli-Agustus 2015 dalam kondisi di bawah normal. "Kondisi hujan yang mulai berkurang sejak awal Juli 2015 mengakibatkan inflow Waduk Kota Panjang dan Danau Singkarak berkurang drastis, sehingga membuat Tinggi Muka Air (TMA) juga menurun secara signifikan," kata Soni saat membuka Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca di PLTA Waduk Koto Panjang dan Danau Singkarak Tahun 2015, di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, (1/9). Soni menambahkan, meskipun terjadi penurunan TMA, Waduk Kota Panjang dan Danau Singkarak masih relatif aman. Namun perlu diingat bahwa kondisi El-Nino yang kuat sampai akhir tahun 2015 akan berdampak pada berkurangnya curah hujan sampai akhir tahun dan perlu diantisipasi.

Di tempat yang sama, Kepala UPT Hujan Buatan BPPT F Heru Widodo mengatakan pelaksanaan TMC ini dipusatkan di Posko TMC Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru. Operasi TMC ini didukung oleh satu pesawat milik PT Pelita Air Service, BMKG Wilayah Riau, PT Angkasa Pura dan Lanud Roesmin Nurjadin. "Pelaksanaan TMC ini akan digelar sekitar 45 hari dan dimulai perdana pada hari ini. Direncanakan setiap hari akan dilaksanakan satu atau dua penerbangan, namun juga disesuaikan dengan kondisi awan yang ada," ucapnya. Dengan TMC ini, lanjutnya, diharapkan curah hujan berpeluang terbentuk secara alami dan dapat dikondisikan agar jatuh tepat di dalam catchment area PLTA Waduk Kota Panjang dan Danau Singkarak, dengan durasi yang lebih panjang. "Sehingga secara keseluruhan akan memberikan penambahan curah hujan di daerah yang ditargetkan," imbuhnya.

Sementara, Manager PT PLN (Persero) Pembangkitan Wilayah Sumatera Bagian Utara Sektor Pembangkitan Pekanbaru, Charles Leonard Damanik, berharap dari operasi ini mampu menaikkan elevasi TMA di PLTA Waduk Kota Panjang dan Danau Singkarak. Sehingga kesinambungan kelistrikan di wilayah Sumatera Barat dan Riau dapat terjaga pasokannya. "Kami juga berharap dari kerjasama antara PT PLN (Persero) dan BPPT dapat terus terjalin dengan baik dalam hal menginformasikan prakiraan cuaca. Tujuannya agar dapat membantu pola pengoperasian pembangkit listrik milik PT PLN (Persero)," tutup Charles.

Secara meteorologis dan klimatologis, upaya TMC untuk mengatasi defisit air di Waduk PLTA Kota Panjang dan Danau PLTA Singkarak pada kondisi EL Nino kuat seperti sekarang ini memang akan menghadapi tantangan minimnya potensi awan potensial. Namun ini harus dilakukan untuk mengantisipasi berkurangnya curah hujan yang bisa berakibat pada terjadinya defisit produksi listrik. Pada prinsipnya, modifikasi cuaca yang dilakukan dengan cara penyemaian awan (cloud seeding) adalah bertujuan untuk mempercepat proses terjadinya hujan sekaligus menambah intensitas hujan dengan cara memperpanjang durasi hujan. Dengan demikian, maka dengan adanya TMC diharapkan curah hujan yang masih berpeluang terbentuk secara alami dapat dikondisikan agar jatuhnya tepat di dalam Catchment Area Waduk PLTA Kota Panjang dan Danau PLTA Singkarak dan dengan durasi yang lebih panjang sehingga secara keseluruhan akan memberikan penambahan curah hujan (rain enhancement) di daerah target.

(FHW/THS/STR/IBN-UPTHB).

UPT HUJAN BUATAN DAN PT. PINDAD (PERSERO) PERKENALKAN PRODUK COSAT 1000 DALAM PAMERAN NATIONAL INNOVATION FORUM 2015

Dalam rangka memperkuat upaya hilirisasi produk riset ke industri, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi pada hari Senin, 13 April 2015 menyelenggarakan acara “National Innovation Forum” (NIF) 2015, bertempat di Graha Widya Bhakti, Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan. Acara ini digelar dengan tujuan untuk mempromosikan pencapaian hasil-hasil inovasi teknologi dari lembaga penelitian dan pengembangan serta perguruan tinggi kepada dunia usaha dan masyarakat. Dalam acara tersebut, selain dipamerkan sejumlah inovasi anak bangsa juga dilakukan penandatangan sejumlah nota kesepahaman tentang pemanfaatan teknologi antara sektor akademik dengan sektor swasta, yang terbagi dalam tujuh bidang fokus sesuai RPJM 2015-2019 yaitu pangan, energi, kesehatan dan obat, transportasi, teknologi informasi dan komunikasi, pertahanan dan keamanan, serta material maju.

Dalam acara tersebut, UPT Hujan Buatan BPPT dan PT PINDAD yang sejak beberapa tahun lalu telah menjalin kerjasama untuk produksi bahan semai flare hygroskopis, secara resmi menandatangani Perjanjian Kerjasama untuk produksi dan komersialisasi bahan semai sistem flare yang diberi nama CoSat 1000. Produk CoSat sendiri turut ditampilkan dalam pameran NIF 2015, bersama dengan sejumlah produk inovasi lainnya.

Presiden RI Joko Widodo yang akrab dengan panggilan Jokowi, hadir dalam acara tersebut dengan didampingi sejumlah tokoh dan pejabat, antara lain mantan Presiden RI ke-3 RI BJ Habibie, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, Menkopolhukam Tedjo Edhy Purdijatno, Menko Kemaritiman Indroyono Soesilo, Menteri Perindustrian Saleh Husein, Menpan Yuddy Chrisnandi, Wakapolri Komjen Badrodin Haiti, Plt Gubernur Banten Rano Karno, dan Wali Kota Tangsel Airin Rachmi Diany.

Dalam sambutannya saat membuka acara NIF 2015, Presiden Jokowi mengatakan bahwa kerjasama yang konkret dan kolaborasi yang jelas antara peneliti, dunia usaha, dan perguruan tinggi dapat memberikan perwujudan yang jelas dan menghasilkan berbagai produk yang bermanfaat bagi rakyat. Presiden juga menyatakan bahwa pemerintah mendukung penelitian dan riset teknologi, tapi perlu ada kesinambungan antara pelaku penelitian, dunia usaha, pengguna, masyarakat, serta pembuat kebijakan.

Sementara itu, Menteri Ristek dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir berharap event National Innovation Forum 2015 dapat menjadi titik tolak untuk meningkatkan kepercayaan dunia usaha atau industri menggunakan hasil karya anak negeri. “Kegiatan ini bertujuan membangun komunikasi dan interaksi antara pelaku penelitian, dunia usaha, pengguna dan masyarakat serta pembuat kebijakan. Dari interaksi tersebut diharapkan bisa mempercepat komersialisasi hasil penelitian dan pengembangan. Selain itu acara ini juga menjadi titik tolak peningkatan kepercayaan dunia usaha / industri atas hasil litbang dan Perguruan Tinggi terhadap produk inovasi karya anak bangsa sendiri”, ujar Nasir.

Selepas acara di Graha Widya Bhakti, Presiden Jokowi beserta rombongan juga berkesempatan berkeliling meninjau kawasan Puspiptek, diantaranya mengunjungi Ruang Kendali Utama dan Teras Reaktor Nuklir BATAN, serta melihat demonstrasi Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) Alap-Alap yang dikembangkan oleh BPPT.(BDH -UPTHB).

Statistik Pengunjung

8.png2.png5.png4.png6.png
Today93
Yesterday219
This week312
This month3731
Total82546

Kontak Kami

Gedung Ir. Mohammad Soebagio
Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) - BPPT, GEOSTECH
Kawasan PUSPIPTEK Serpong - Tangerang Selatan 15314
Telp. (021) 75791381 ext 4175 ; Faks. (021) 75791428
e-mail:
ka-bbtmc@bppt.go.id
sekr-bbtmc@bppt.go.id